Kisah Kehadiran Umat Buddha di Mimika, 27 Tahun Toleransi Terus Terjaga

Cetiya Giri Loka di Kampung Naena Mukti Pura, Distrik Iwaka, Mimika, Papua.
Cetiya Giri Loka di Kampung Naena Mukti Pura, Distrik Iwaka, Mimika, Papua.

Papan putih bertuliskan Cetiya Giri Loka tampak begitu tua terpasang di depan tempat ibadah umat Buddha di Kampung Naena Mukti Pura, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, Papua.

Begitu juga tempat ibadah yang terlihat begitu sederhana yang disebut sudah ada lebih dari dua puluh tahun silam.

“Di tahun 95 sampai sekarang dan ini (tempat ibadah) satu-satunya serta yang pertama. Yang di Timika yang kedua,” kata Ketua Cetiya Giri Loka, Kartiadi atau Upasaka Pandhita Katadamo, Minggu (15/5/2022).

Kartiadi menceritakan tentang awal hadirnya umat Buddha di Kabupaten Mimika tepatnya di SP 5, SP 6, dan SP 7.

Pada masa orde baru tahun 1995, umat Buddha ini mengikuti program transmigrasi pemerintah. Pada saat itu umat Buddha berjumlah hampir 60 kepala keluarga.

Seiring berjalannya waktu, sebagian besar umat Buddha terpaksa kembali ke kampung halamannya karena kebutuhan untuk mendapat pelayanan keagamaan tidak terpenuhi.

Ini karena pada waktu itu belum ada fasilitas maupun penyuluh agama yang berkompeten.

“Misalnya mereka punya hajatan mau menikah, dulu di sini kita tidak punya tokoh agama, penyuluh, maka pilihannya adalah pulang ke kampung halaman mereka,” kenangnya.

Sampai saat ini umat Buddha di SP 5 dan SP 7 sudah tidak ada, sedangkan yang di SP 6 tersisa 6 kepala keluarga yang bertahan sampai sekarang.

Berjalannya waktu, umat ini membentuk suatu komunitas yang saat ini bernaung yaitu di Majelis Budhayana Indonesia (MBI).

Yang tergabung di MBI bukan hanya umat di SP 6, tetapi juga semua umat Buddha di Kabupaten Mimika.

“Jadi setiap hari hari besar keagamaan kita bersatu di satu tempat. Biasanya sih kita bergantian misalnya tahun ini hari raya Waisak di pusatkan di kota berarti tahun depan akan dilaksanakan di sini,” kata Kartiadi.

Kartiadi mengungkapkan, sejak tahun 1995 dia dan umat Buddha lainnya diterima dengan sangat baik di wilayah itu.

Toleransi begitu terjaga dengan sangat baik oleh umat beragama di SP 6.

“Kami ucapkan terima kasih karena kami diterima di sini, bisa bersosial di sini,” ucapnya.

Tempat ibadah Cetiya Giri Loka ini juga, kata dia menjadi tempat kumpul para warga. “Bahkan di tempat ibadah ini kalau sore ramai setiap hari, anak anak, ibu ibu nongkrong di sini. Dan bahkan kalau ada apa-apa di sini tetangga tetangga akan begitu perhatikan tempat ini,” ungkapnya.

Ia berharap, toleransi tetap terpelihara dan terjaga sehingga semmua umat bisa hidup aman, damai dan tentram.

reporter : Anya Fatma
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.