Semangat Marsel Sani, Difabel yang Berusaha Kejar Impian di Sekolah Reguler

Marsel Sani (baju olahraga) saat berada di dalam kelas. (Foto: Restu/Seputarpapua)
Marsel Sani (baju olahraga) saat berada di dalam kelas. (Foto: Restu/Seputarpapua)

Namanya Marsel Sani, seorang anak berkebutuhan khusus tunadaksa yang berjuang menggapai mimpinya di sekolah reguler, yakni Sekolah Menengah Pertama (SMP) Yayasan Pendidikan Advent Timika (YPAT).

Seperti biasa pukul 06.30 WIT, Marsel sudah bersiap diantar sang adik dari gorong-gorong menuju ke sekolahnya menggunakan sepeda motor.

Tak memiliki kaki, dan kondisi tangan yang memiliki kekurangan, tidak menyurutkan semangat Marsel untuk datang tepat waktu mengikuti ibadah pagi dan masuk ke kelasnya di 7 B.

Tak jarang Marsel diberikan kepercayaan untuk memimpin teman-temannya dalam doa di dalam kelas.

Tak ada yang khusus, semua kegiatan di sekolah reguler dilaksanakannya bersama teman-teman dengan kondisi yang normal.

Seperti bermain basket bersama teman-teman, bahkan aktif di ekstrakurikuler Drum Band di sekolahnya dengan spesialis membawa alat musik simbal.

“Saya mau jadi ahli komputer,” begitu kata Marsel kepada Seputarpapua.com, Jumat (2/9/2022).

 

 

Cita-citanya ini dibarengi dengan usahanya yang terlihat sangat gigih.

Anak yang berusia 13 tahun ini selalu semangat bangun pagi untuk ke sekolah, “Saat sakit saja baru tidak masuk sekolah,” ungkap Marsel.

Setiap hari usai pulang sekolah, Marsel rutin mengerjakan tugas sekolah. “Tiap malam pasti saya kerja PR  dan siapkan buku dan seragam untuk besok pakai. Setelah itu baru saya bisa tidur,” kata Marsel.

Marsel yang berasal dari suku Moni ini sangat menyukai pelajaran Komputer, Agama dan Matematika.

“Dari TK saya sudah sekolah di YPAT, jadi ada banyak teman. Teman-teman paling sayang sama saya, mereka baik-baik semua, terutama guru-guru mereka semua baik dengan saya, mereka juga sayang, apapun yang saya butuhkan mereka kasih. Saya tidak pernah rasa susah karena semua sayang saya,” ungkap Marsel.

Meski terlahir dari keluarga yang sederhana, Marsel selalu bersyukur dan sabar jika ada yang kurang dalam menunjang pendidikannya.

“Karena bapa masih mencari uang di pedalaman, saya tunggu saja, karena yang kurang hanya pakian Pathfinder seperti teman-teman pakai kalau hari Jumat,” tutur Marsel.

 

 

Marsel di mata teman-teman

Sehari-hari di sekolah, Marsel dibantu dengan kursi roda. Terkadang kursi roda pun tidak mau ia gunakan karena menurutnya bergerak lebih leluasa jika tak menggunakan kursi roda. Bahkan sahabat dari Marsel berlomba-lomba untuk sesekali mendorong kursi rodanya.

Marsel selalu disambut baik teman-temannya dan memperlakukan dia sama seperti yang lainnya. Tidak pernah ada kata membully yang keluar dari mulut siswa YPAT selama ia bersekolah dari TK hingga SMP.

“Setiap hari selalu sama-sama Marsel. Dia baik, ramah, dia juga tidak suka marah-marah selalu tersenyum. Marsel itu sama seperti kita semua, kita disini selalu menghargai dia, kita juga senang membantu dia, paling suka dorong kursi rodanya,” kata Mark Goni teman sebaya Marsel.

Mark mengaku Marsel sangat Rajin. Bahhkan lebih rajin dari teman-temannya yang lain.

“Dia rajin sekali, bahkan lebih rajin dari kami, dia juga di kelas selalu semangat, kami senang sekali ada Marsel disini,” pungkas Mark.

*Dimata Guru dan Kepala Sekolah*

Marsel memiliki kesan yang baik dengan para guru. Bahkan mereka tidak rela melepaskan Marsel untuk pindah ke sekolah lain karena semangat belajarnya.

“Dia anak yang baik, percaya diri, aktif dia bertumbuh di lingkungan teman-teman yang sudah tau tentang dia, dan mereka sayang dia,” kata Aman Lay, guru Sekolah YPAT.

Aman juga sangat memberikan apresiasi kepada orang tua dari Marsel yang selalu memberikan support.

“Mereka rajin mengantar Marsel ke sekolah bahkan menggendong sampai masuk ke kelas,” ungkap Aman.

“Kita semua harapkan dia punya rasa percaya diri terus dipertahankan bahwa dia dengan kondisinya adalah sebuah kelebihan, kita juga ajar dia melukis dan hal yang berhubungan dengan akademis lainnya, kami ingin dia merasa bahwa ‘saya bisa, saya bangga dengan diri saya’,” kata Aman. 

Kepala SMP YPAT Vector Lesilolo mengatakan, semua keluarga besar YPAT menganggap dia sama seperti siswa yang lain.

“Kita bisa terima dia di sekolah ini karena dia tidak ada perbedaan dengan yang lain, bisa beraktivitas seperti biasa, menulis juga biasa tidak ada yang berbeda dengan yang lain hanya karena faktor fisik. Tapi anak ini punya semangat untuk mau sekolah, karena semua kegiatan dia ikut,” kata Vector.

Semangat dan percaya diri dari Marsel mebuat pihak sekolah sangat menyayangi Marsel.

“Dia punya semangat ini yang bikin kitong sayang dia, perhatian lebih dari yang lain sebenarnya tidak, karena semuanya sama seperti biasa. Saya selalu kasih semangat untuk dia, dia harus semangat belajar karena dengan kondisi dia begini tidak menghalangi dia menjadi pemimpin,” pungkas Vector.

*Pendidikan Adalah Hak Semua Orang*

Direktur Yayasan Pendidikan Advent Timika (YPAT) Erlin Suebu mengatakan, pendidikan merupakan hak setiap orang yang tidak dibatasi karena seorang penyandang disabilitas sehingga membuat diskriminasi kepada setiap orang.

“Setiap orang diciptakan oleh Tuhan memiliki hak dasar yang sama, hak untuk hidup, untuk mendapatkan pendidikan yang layak, jadi kami tidak membeda-bedakan siapa saja. Normal, penyandang disabilitas kami terima,” ujar Erlin.

Menurut Erlin tidak membedakan siapa saja yang ingin bersekolah di YPAT. Hal ini bertujuan agar anak dengan kebutuhan khusus bisa sekolah dengan baik.

Disamping itu, mengajarkan anak didik memiliki sikap toleransi kepada satu dengan yang lain.

“Jadi sikap itu yang kami perlu tumbuh kembangkan, sehingga anak anak penyandang disabilitas ini tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat,” ungkap Erlin.

Erlin menambahkan, meski dengan keadaan fisik berkekurangan, namun memiliki kemampuan yang sama seperti orang normal lainnya, tentu sangat bisa untuk dididik di sekolah reguler.

“Sehingga seluruh warga sekolah ini memiliki sikap toleransi, menghargai satu dengan yang lain dan saling menunjang, mendukung mereka punya hubungan sosial, sehingga mereka tidak disepelehkan dan didiskriminasi oleh kita,” kata Erlin.

Bagi Erlin, semua manusia jangan menganggap sepeleh para disabilitas.

“Untuk stigma negatif ini kita hilangkan, peran penting dari dunia pendidikan bagaimana semua masyarakat menghargai dan juga menolong dan memenuhi hak-hak dasar yang dimiliki atau didapatkan oleh setiap orang,” pungkas Erlin.

 

reporter : Kristin Rejang
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.