PT Bartuh Langgeng Abadi dan Yayasan Ekologi Sahul Lestari Komitmen Kelola Lingkungan untuk Keberlanjutan Sosial Budaya dan Ekonomi Masyarakat Adat Pesisir

Foto 1 Komisaris PT Bartuh Langgeng Abadi Sulaksono (baju batik kanan) bersama pihak Yayasan Ekologi Sahul Lestari. (Foto: Ist)
Komisaris PT Bartuh Langgeng Abadi Sulaksono (baju batik kanan) bersama pihak Yayasan Ekologi Sahul Lestari. (Foto: Ist)

TIMIKA | PT Bartuh Langgeng Abadi (BLA), merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam usaha ekspor udang beku, telah melakukan ekspor perdananya semenjak tahun 2021 ke luar negeri khususnya Jepang.

Usaha ekspor yang dilakukan PT Bartuh Langgeng Abadi memanfaatkan potensi komoditas perikanan, khususnya komoditi udang yang telah menjadi salah satu sektor produk perikanan ekspor andalan Kabupaten Mimika di kancah internasional.

PT Bartuh Langgeng Abadi merupakan salah satu dari sekian banyak perusahan yang bergerak pada jenis usaha produk komoditas perikanan di wilayah tangkap zona 718 WPP NKRI, dengan potensi perikanan tangkap sebesar 2,78 juta ton per tahunnya.

Dengan potensi perikanan yang cukup besar, tentunya hal ini menjadi salah satu keuntungan bagi perusahan yang bergerak pada sektor ini. Komisaris PT Bartuh Langgeng Abadi, Sulaksono melihat bahwa potensi ini bukanlah merupakan sebuah kebetulan, melainkan kemurahan Sang Pencipta yang membuat kondisi alam Papua khususnya Kabupaten Mimika sebagai sebuah karya cipta yang begitu luar biasa.

Terlepas dari itu, Sulaksono menjelaskan segala potensi ini kemudian menjadi mustahil akan bertahan apabila tidak didukung oleh upaya perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove dan gambut, serta pelestarian warisan kearifan sosial dan budaya masyarakat adat pesisir, khususnya suku Kamoro yang secara turun temurun telah berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan ekosistem mangrove dan gambut.

Di mana, secara tidak langsung masyarakat suku Kamoro telah berperan penting bagi tata hidrologi serta keberlangsungan kuantitas dan kualitas komoditas sektor perikanan di Kabupaten Mimika.

Salah satu yang menjadi perhatian Sulaksono adalah upaya-upaya melalui program pendampingan yang dilakukan oleh Yayasan Ekologi Sahul Lestari (YESL). YESL adalah salah satu yayasan lokal di Kabupaten Mimika yang melalui beberapa programnya bermitra dengan pemerintah dan masyarakat adat pesisir.

Saat ini yayasan tersebut sedang melakukan beberapa program kemitraan bersama Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Mimika terkait pemetaan wilayah tangkap nelayan orang asli Papua (OAP), serta beberapa program kemitraan dengan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL) Wilayah Maluku Papua maupun Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Papua terkait program peningkatan peran perempuan dan pemuda dalam pengelolaan hutan desa di Kabupaten Mimika, khususnya di hutan desa Pigapu.

Sulaksono menilai bahwa kekuatan Yayasan Ekologi dalam membangun kerjasama para pihak dilintas sektor menjadi sangat strategis untuk kemajuan masyarakat, khususnya dalam pengelolaan sumberdaya alam, sosial budaya dan ekonomi berbasis potensi lokal.

“Dengan melihat peluang tersebut, inilah yang menggerakkan inisiatif PT Bartuh Langgeng Abadi secara sadar bahwa menjadi pengusaha lokal bukan menjadi rintangan untuk membuat sebuah langkah kecil pertama di Kabupaten Mimika, untuk berkontribusi dalam upaya pelestarian ekosistem mangrove dan gambut serta pelestarian nilai kearifan sosial budaya masyarakat adat Kamoro,” katanya.

Manager Program Yayasan Ekologi Sahul Lestari, Rintho G. Maturbongs mengatakan, komitmen kerjasama dengan PT Bartuh Langgeng Abadi telah memiliki konsep ‘Take and Give’ (mengambil dan menerima), atau dengan kata lain apa yang diambil dari alam harus dikembalikan ke alam demi keseimbangan kehidupan.

Konsep ini menurutnya sangat baik karena tidak harus menunggu alam mulai rusak, nilai kearifan sosial budaya hilang, dan ekonomi lokal ter-marjinalkan barulah melakukan pendekatan program.

“Sebaiknya sejak awal sudah menanamkan hubungan simbiosis yang saling menguntungkan antara private sector dan juga keberlangsungan lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi demi masyarakat adat yang berkeadilan,” katanya.

Hal senada disampaikan oleh Sulaksono bahwa ada hal-hal baik harus dikerjakan secara bersama-sama, guna kemajuan Kabupaten Mimika dengan menerapkan prinsip Sustainable Development Goals (SDG’s) atau tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB).

“Hal-hal tersebut sudah dibahas pada saat pertemuan bersama pihak PT Bartuh Langgeng Abadi bersama Yayasan Ekologi Sahul Lestari di Rimba Papua Hotel Timika tanggal 23 November 2023,” ungkapnya.

penulis : Mujiono

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *