Iuran BPJS-TK Warga Mulia Kencana Dibayar Pakai Alokasi Dana Desa

Sabtu, 04 Mei 2019 17:42 WIT
Samsul Bahri (Foto: Yunita/SP)

TIMIKA | Sebanyak 315 warga Mulia Kencana (SP 7), Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, telah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan dan iuran bulanannya dibayar dari Alokasi Dana Desa (ADD).

Kepala Kampung Mulia Kencana Samsul Bahri, pada Jumat (3/5), mendatangi Kantor BPJS Ketenagakerjaan Mimika untuk membayar iuran bulanan warganya. 

Samsul Bahri mengatakan, ini merupakan salah satu program yang dicanangkannya dengan memanfaatkan Alokasi Dana Desa kabupaten, agar seluruh warganya bisa menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. 

"ADD yang diterima kampung Mulia Kencana periode Januari-Maret tahun 2019 triwulan pertama ini baru saja cair bulan Mei, jadi saya berinisiatif ingin melindungi masyarakat saya dengan BPJS Ketenagakerjaan," kata Samsul. 

Menurut Samsul, program kepesertaan BPJS-TK merupakan terobosan baru yang dicanangkannya di tahun 2019 ini untuk kepentingan masyarakat. 

Program ini pun membuat Mulia Kencana menjadi satu-satunya kampung/desa di Kabupaten Mimika yang melindungi seluruh warganya dalam kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. 

Samsul mengalokasikan ADD sebesar Rp18 juta per triwulan untuk membayar iuran BPJS-TK seluruh warganya. Dimana iuran bulanan setiap warga Rp16.700. 

Sedangkan Dana Desa (DD) di tahun 2018 lalu, kata Samsul, difokuskan untuk pemberdayaan ekonomi warga antaralain untuk membeli bibit, peralatan pertanian, pupuk, obat-obatan (sayur, pala wija, dan padi sawah). 

"Ada juga untuk perbaikan rumah dan bantuan meteran bagi warga yang kurang mampu," katanya. 

Sementara DD tahun 2019 dari pusat difokuskan untuk pembangunan SDM dan ekononomi. Program tahun lalu juga akan tetap berjalan, dan menambah pembiayaan perikanan air tawar guna menyambut persiapan PON XX tahun 2020. 

"Untuk program perikanan air tawar kami akan memanfaatkan irigasi sekitar 400 meter," kata Samsul.  

Warga Kampung Mulia Kencana berjumlah 1.866 jiwa yang didominasi warga transmigrasi, dan sekitar 80 Kepala Keluarga diantaranya merupakan warga asli Papua. 

Sebagian besar warga di kampung ini adalah petani. Mereka membentuk kelompok pertanian yang dibagi dalam dua kelompok, yaitu petani keladi dan petatas untuk masyarakat lokal, kemudian palawija dan padi sawah untuk warga non Papua. 

"Untuk sawah ini adalah program baru yang didorong dari dana desa yang jumlahnya 8 orang dari satu kelompok saja," katanya. 

"Dan kedepan kita akan membuat terobosan baru lagi, jika di Jawa ada mina padi nanti di sini kita akan buat mina keladi, jadi kita tanam keladi di kelilingi ikan," sambung Samsul. 

Kata Samsul, produksi padi di Mulia Kencana dalam satu tahun terakhir mencapai 4-5 ton. Dalam setahun bisa dilakukan sekali sampai dua kali panen. 

"Jika faktor ekonomi dan SDM baik, maka masyarakat pun akan hidup sejahtera, itu yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi keributan, pencurian, dan lain-lain," pungkasnya. (Cr-03/SP)

Kategori:
Bagikan