Jurnalis Perempuan Mimika Belajar Perspektif Gender dengan Kalis Mardiasih

Foto bersama Jurnalis Perempuan Mimika (JPM) dengan Penulis sekaligus Aktivis Nahdatul Ulama, Kalis Mardiasih di Gedung Kolektif Collaboration Space Alan Watuh, Jogjakarta, Senin (22/1/2024). (Foto: Ist)
Foto bersama Jurnalis Perempuan Mimika (JPM) dengan Penulis sekaligus Aktivis Nahdatul Ulama, Kalis Mardiasih di Gedung Kolektif Collaboration Space Alan Watuh, Jogjakarta, Senin (22/1/2024). (Foto: Ist)

JOGJA | Jurnalis Perempuan Mimika (JPM) dari Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah belajar menjadi jurnalis berperspektif gender dengan Penulis Opini sekaligus Aktivis Muda Nahdatul Ulama (NU), Kalis Mardiasih di Gedung Kolektif Collaboration Space Alan Watuh, Yogyakarta, Senin (22/1/2024).

Kegiatan yang dikemas dalam Workshop Jurnalis dan Kesetaraan Gender ini diikuti 15 jurnalis perempuan dari berbagai media di Mimika.

Ketua JPM, Elsina Mnsen mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan secara umum kepada jurnalis perempuan Mimika untuk memberitakan tentang kesetaraan gender.

Secara khusus para jurnalis juga belajar tentang penulisan-penulisan tentang dampak kekerasan seksual bagi perempuan dan anak.

“Bagaimana melalui tulisan-tulisan, kita bisa memberikan keadilan kepada perempuan yang adalah korban kekerasan,” katanya.

Dalam workshop ini, Kalis memberikan tips-tips bagaimana membuat tulisan tanpa menuliskan istilah-istilah yang memojokkan perempuan.

Kalis menyebut, beberapa istilah yang sebaiknya tidak digunakan seperti kata janda, sebaiknya diganti dengan ibu tunggal atau perempuan kepala keluarga.

Kemudian ada kehamilan diluar nikah, sebaiknya diganti dengan kehamilan tak direncanakan atau kehamilan tak diinginkan.

“Kehamilan diluar nikah ini istilah sangat diskriminatif, stigma moral yang buat mereka semakin tidak diterima di keluarga, masyarakat juga faskes,” kata Kalis.

Tulisan-tulisan yang dibuat seharusnya bisa memberikan keadilan bagi perempuan sebagai korban. ”Jangan sampai korban jadi korban gara-gara tulisan kita,” ujarnya.

Kalis menegaskan, jurnalis perempuan di Mimika harus bisa memutus rantai kekerasan media terhadap perempuan, dengan cara memilih kata atau bahasa yang tepat dalam menunjukkan fakta.

“Bagaimana melihat korban sebagai korban, bukan sebagai yang disalahkan,” katanya.

Anggota Sekretariat Nasionalis Jaringan Gusdurian ini mengajak para jurnalis perempuan untuk membuat suatu jurnalisme panjang terkait kekerasan seksual. “Bikin produk jurnalistik panjang untuk melihat isu perempuan dan anak, ini sudah masuk kemanusiaan,” pungkasnya.

Produk jurnalistik yang dibuat nanti tidak hanya dengan keterangan dari pihak kepolisian, tetapi juga mendengarkan langsung keterangan dari pendamping korban. Tulisan yang dibuat harus yang mempunyai sisi human interest tinggi agar menarik perhatian orang.

“Tujuannya agar masyarakat marah setiap kali ada berita kekerasan seksual,” tegasnya.

 

penulis : Anya Fatma

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *