Mahasiswa MPDr Uncen Pentaskan Cerita Rakyat Kisah Cipriw dan Keladi

PENTAS | Kelompok IV Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Pendidikan Dasar Uncen Kelas Timika saat mementaskan cerita rakyat. (Foto: Muji/Seputarpapua)
PENTAS | Kelompok IV Mahasiswa Pasca Sarjana Magister Pendidikan Dasar Uncen Kelas Timika saat mementaskan cerita rakyat. (Foto: Muji/Seputarpapua)

TIMIKA | Mahasiswa Pasca Sarjana S2-Magister Pendidikan Dasar (MPDr) Uncen Kelas Timika Angkatan I, tahun ajaran 2021-2022, melakukan pementasan cerita rakya sebagai bentuk tugas akhir mata kuliah seni dan budaya.

Seperti terlihat, pada Jumat (3/6/2022) malam, Kelompok IV mahasiswa MPDr Uncen mementaskan kisah asal mula pohon kelapa dengan judul ” Cipriw Anak yang Malang” di Aula YPMNU Mimika.

Sementara pada Sabtu (4/6/2022) malam Kelompok II mementaskan cerita rakyat dari Suku Amungme ‘Kisah Terjadinya Keladi di SD Tiga Raja Mimika.

Dosen Pendidikan Bahasa dan Seni, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan Uncen, Dr.Adolina Velomena Samosir Levaan mengatakan, pementasan seni budaya bagian dari mata kuliah yang ditempuh mahasiswa Magister Pendidikan Dasar. Tujuannya untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal dan budaya di Tanah Papua. Serta bagian dasar yang nantinya harus diajarkan pada anak didik di tingkat sekolah dasar (SD).

Dimana, SD ini sebagai pondasi untuk peserta didik mengerti tentang budayanya. Namun di Papua belum banyak dilakukan, karena regulasi dari pemerintah daerah berupa Perda untuk dimasukkan ke dalam muatan lokal (mulok). Sehingga pembelajaran budaya juga sebagai bagian dari indikator penting.

“Sampai sekarang ini Perda untuk pembelajaran budaya ini belum ada, dengan alasan banyaknya bahasa yang ada di Papua. Padahal hal itu bisa dilakukan dan terbukti para guru bisa mementaskan cerita rakyat, untuk menunjukkan budaya daerah yang ada,” katanya.

Hal ini sangat penting, karena melalui pementasan budaya nanti, maka para siswa diajak untuk mengkaji baik budayanya sendiri, mitos, sampai kepada pesan yang disampaikan.

Apalagi sekarang sudah diterapkan kurikulum merdeka belajar. Sehingga nilai budaya harus dikembangkan dan semoga apa yang dilakukan oleh Mahasiswa S2, bisa mengimplementasikan pembelajaran ini kepada siswa didiknya nanti

“Jadi nanti guru bisa melihat bakat dari para siswa, apakah di bidang seni budaya, numerasi atau literasi,” ujarnya.

Selain itu, cerita rakyat bisa menjadi bagian pariwisata suatu daerah. Karena ada nilai-nilai budaya tersendiri yang dihasilkan.

“Kami akan terus mendorong pembelajaran ini, agar bisa diterapkan di sekolah. Sehingga, anak-anak tidak melupakan nilai budaya yang ada,” ungkapnya.

Sementara Kabid GTK pada Dinas Pendidikan Mimika, Stanis Laiyan mengatakan, pementasan yang dilakukan merupakan suatu hal yang luar biasa, karena melalui kreatifitas ini bisa mengajak anak didik untuk lebih berkreasi dan lebih mengenalkan pada budaya daerah yang ada.

“Dengan kemampuan ini diharapkan kedepan tenaga pendidik, bisa meningkatkan kreatifitas dan lebih mengenalkan budaya kepada anak-anak. Sehingga mereka tidak melupakan budaya lokal Papua,” katanya.

 

reporter : Mujiono

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.