Petani Muda Tanpa Kenal Lelah

Rito sedang berjalan di tengah ladang bawang miliknya, Minggu (16/10/2022). (Foto: Indrayadi TH/ Seputarpapua)
Rito sedang berjalan di tengah ladang bawang miliknya, Minggu (16/10/2022). (Foto: Indrayadi TH/ Seputarpapua)

KEEROM | Putus sekolah tak menyurutkan pemuda yang satu ini. Dia mampu bangkit mandiri untuk mengubah ekonomi keluarga di tanah rantau Bumi Cenderawasih dan menjadi inspirasi bagi pemuda pemudi.

Rito Cahyono, pria berusia 17 tahun menjadi inspirasi di Kampung Arsopura, Distrik Skanto, Kabupaten Keerom. Dirinya menyulap lahan dengan luas satu hektar menjadi ladang uang dengan ditanami bawang merah.

Lantaran faktor ekonomi, ia putus sekolah di bangku kelas VII (tujuh) MTs Al Azhar di usia 12 tahun. Tak kenal menyerah, ia belajar menanam bawang merah di lahan kerabatnya. Tiga tahun berjalan, ia pun mulai menggarap lahan miliknya di usia 15 tahun.

“Saya putus sekolah, dan menumpang belajar tani bawang merah di lahan keluarga. Saya tak malu dengan kondisi saya saat itu, karena saya mau bantu keuangan keluarga,” kata Reto sapaan akrabnya saat berbincang bersama media ini, Minggu (16/10/2022).

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku senang dengan kegiatan sehari-hari menjadi petani. Tak ada kata menyesal dalam benaknya, karena roda kehidupan berjalan terus. Selagi masih diberikan kesehatan, ia akan terus beribadah dan bekerja.

Dari lahan yang digarapnya, sekali panen bawang merah dapat tembus delapan hingga sepuluh ton dan jika dijual dengan harga terendah Rp20.000 ia mengantongi Rp160 juta hingga Rp200 juta. Lanjutnya, bibit bawang merah yang ditanami berasal dari Brebes, Jawa Tengah.

“Kalau satu lahan bersamaan ditanam, tapi klo beda waktu berarti beda hasil panen juga. Semuanya juga tergantung bibit. Bibit bawang merah ini lebih mudah perawatannya, ketimbang bibit bawang dari kabupaten lainnya,” ujarnya.

Pemuda yang aktif juga di remaja masjid Al Azhar Arsopura ini mengaku sekitar empat sampai lima pemuda mulai aktif menanam bawang merah. Generasi muda pun harus mengambil peran, khususnya dalam bidang pertanian yang produktif.

“Modal awal saya dulu, dari numpang-numpang menanam bawang merah di lahan orang lain. Setelah uang terkumpul, barulah saya membeli bibit bawang merah dan menanamnya,” kata Reto yang hobi olahraga badminton (bulu tangkis).

Pria kelahiran Keerom 2 April 2005 ini juga berharap, pemerintah tak menutup mata terhadap petani-petani muda di Papua, khususnya di Kabupaten Keerom. Pasalnya, sebagian besar petani di Arsopura membeli pupuk di toko, karena tak tersedianya Koperasi Unit Desa (KUD).

“Bagusnya ada KUD, biar bisa mengambil pupuk di koperasi dan membayarnya saat panen tiba. Karena keterbatasan modal, makanya saya buat strategi menanam tak sekaligus, sistem setengah hektar dulu. Kalau sudah panen, baru lanjutkan yang setengah hektar lagi,” kata Reto.

 

Rito sedang memeriksa kincir air di ladang bawang miliknya, Minggu (16/10/2022). (Foto: Indrayadi TH)

Untuk membuat jaringan air gunakan pipa paralon, butuh modal paling sedikit Rp15 juta hingga Rp20 juta. Beruntung, ia dan beberapa petani yang lahannya berada di samping kali, sehingga kebutuhan air untuk siram tanaman dapat terpenuhi.

“Di sini (Arsopura) perairan ke lahan petani, tak maksimal. Ini saya tak bisa katakan secara detail. Yang jelas, kalau bisa bendungan air untuk pengairan ke lahan petani, diaktifkan. Kasihan petani-petani yang lahannya jauh dari sumber air. Intinya semakin banyak air, ukuran bawang merah menjadi besar, kekurangan air berarti bawang merahnya jadi kecil,” ujar Reto.

Terlepas dari itu, ia tetap mendukung petani-petani di Kampung Arsopura yang hampir keseluruhan menanam bawang merah. Ini dapat menjadi satu komoditi terbesar dari Arsopura untuk memenuhi kebutuhan bawang merah di pasar-pasar yang ada di Kabupaten Keerom, Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura serta bersaiang dengan bawang merah dari luar Papua.

“Kebetulan Mama saya juga pedagang di Pasar Youtefa Otonom, Kota Jayapura. Jadi, sedikit ringan saat menjual hasil panen saya. Semoga kedepannya, Arsopura ini menjadi pusatnya bawang merah dengan kualitas baik,” tutupnya.

 

Rito sedang mengayuh sepeda menuju ladang bawang miliknya, Minggu (16/10/2022). (Foto: Indrayadi TH)

Pertanian telah memasuki era moderen, Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong generasi muda dapat beradaptasi dalam memanfaatkan peluang dan memenangi kompetisi bertani dengan hasil maksimal.

 

Tanggapi Berita ini
reporter : IndrayadiTH
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.