Rembuk Stunting 2023, Upaya Pemkab Mappi Percepat Penurunan Stunting

Foto bersama peserta rembuk stunting yang digelar oleh Bappeda Mappi. (Foto: Dok Humas Pemkab Mappi)
Foto bersama peserta rembuk stunting yang digelar oleh Bappeda Mappi. (Foto: Dok Humas Pemkab Mappi)

TIMIKA | Dalam penanganan Stunting di Kabupaten Mappi, Provinsi Papua Selatan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mappi melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menggelar kegiatan Rembuk Stunting dalam rangka percepatan penurunan stunting tahun 2023 wilayah itu.

Kegiatan rembuk stunting digelar untuk memastikan perencanaan kegiatan, intervensi pencegahan dan penurunan stunting yang dilakukan secara bersama-sama antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) penanggung jawab layananan dengan sektor atau lembaga non pemerintah dan masyarakat.

Kegiatan berlangsung di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Mappi dan dibuka Asisten III Setda Mappi, Maria Goretty Letsoin mewakili Penjabat (Pj) Bupati Mappi, Michael R. Gomar, pada Rabu, 15 Maret 2023.

Advertisements

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, yakni tanggal 15 -16 Maret 2023.

Dalam keterangan tertulis yang diterima seputarpapua.com, Sabtu (17/3/2023), Maria Goretty dalam sambutan mengapresiasi langkah cepat yang dilakukan Bappeda Mappi dalam rangka percepatan penurunan stunting.

“Seperti ketahui bahwa instruksi Bapak Presiden, semua harus respon cepat dalam penanganan stunting, dan kita bersyukur Bappeda sudah langsung merespon hal ini,” ujarnya.

Asisten III menyebut, kegiatan rembuk stunting dalam rangka membahas hasil perumusan kegiatan melalui diskusi terarah untuk membuat komitmen serta menetapkan kegiatan-kegiatan percepatan dan penurunan dalam menangani stunting di Kabupaten Mappi.

Sementara itu, Kepala Bidang Litbang Bappeda Mappi, Veby Mambor mengatakan, kegiatan rembuk ini dalam rangka percepatan penurunan stunting di Kabupaten Mappi. Ia menuturkan, dalam rangka percepatan penurunan stunting di Mappi pihaknya berkoodrinasi serta berkolaborasi dengan OPD teknis serta lembaga terkait.

“Dalam kegiatan ini kita berkolaborasi dengan OPD terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Perikanan, Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, TP-PKK Kabupaten Mappi serta lembaga lainnya,” ungkapnya.

Dalam rembuk stunting ada empat poin yang menjadi prioritas utama dalam rangka percepatan penurunan stunting di Kabupaten Mappi, yakni, rembuk stunting, pemetaan analisis situasi program stunting, penyusunan rencana aksi daerah dalam rangka konvergensi percepatan penurunan stunting, dan komitmen bersama percepatan penanggulangan stunting yang ditandai dengan tanda tangan bersama sebagai wujud dukungan.

Advertisements

“Jadi masing-masing OPD wajib mengusulkan program kegiatan dalam rangka percepatan penurunan stunting,” pungkasnya.

Dikutip dari laman yankes.kemenkes.go.id, menurut WHO (2015), stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.

Advertisements

Selanjutnya, menurut WHO (2020), stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang/tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi dikarenakan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang/kronis yang terjadi dalam 1000 HPK.

Dikutip dari sumber yang sama stunting berdampak selain pada kesehatan anak juga berdampak pada ekonomi. Adapun dampak stunting terhadap kesehatan anak yakni, gagal tumbuh (berat lahir rendah, kecil, pendek, kurus), hambatan perkembangan kognitif dan motoric. Gangguan metabolik pada saat dewasa, berisiko terjangkit penyakit tidak menular (diabetes, obesitas, stroke, penyakit jantung, dan lain sebagainya).

Selanjutnya, secara ekonomi stunting berpotensi menimbulkan kerugian setiap tahunnya : 2-3 % GDP.

Advertisements

Ada beberapa faktor yang mendasari terjadinya stunting, antara lain yaitu asupan kalori yang tidak adekuat (gizi tidak tercukupi) akibat faktor sosio-ekonomi (kemiskinan), pendidikan dan pengetahuan yang rendah mengenai praktik pemberian makan untuk bayi dan batita (kecukupan ASI), kurangnya protein hewani dalam MPASI, penelantaran, pengaruh budaya, ketersediaan bahan makanan setempat.

Faktor selanjutnya kebutuhan yang meningkat, penyakit jantung bawaan, alergi susu sapi, bayi berat badan lahir sangat rendah, kelainan metabolisme bawaan, infeksi kronik yang disebabkan kebersihan personal dan lingkungan yang buruk (diare kronis) dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh imunisasi (Tuberculosis / TBC, difteri, pertussis, dan campak).

Adapun beberapa cara pencegahan stunting yang pertama pada saat ibu masih menjadi remaja putri dilakukan skrining anemia dan konsumsi tablet tambah darah. Pada saat kehamilan disarankan untuk rutin memeriksakan kondisi kehamilan ke dokter. Perlu juga memenuhi asupan nutrisi yang baik selama kehamilan, dengan makanan sehat, dan juga asupan mineral seperti zat besi, asam folat, dan yodium harus tercukupi.

Advertisements

Pencegahan lain dapat dilakukan juga kepada balita dengan menerapkan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Sesaat setelah bayi lahir, segera lakukan IMD agar berhasil menjalankan ASI Eksklusif. Setelah itu, lakukan pemeriksaan ke dokter atau ke Posyandu dan Puskesmas secara berkala untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.

Kemudian dilakukan Imunisasi, perhatikan jadwal imunisasi rutin yang diterapkan oleh Pemerintah agar anak terlindungi dari berbagai macam penyakit.

Cara berikutnya adalah dengan pemberian ASI (Air Susu Ibu) Eksklusif sampai anak berusia 6 (enam) bulan dan diteruskan dengan Makanan Pengganti ASI (MPASI) yang sehat dan bergizi, kemudian melalukan pemantauan tumbuh kembang balita melalui posyandu.

Langkah pencegahan terakhir adalah penerapan gaya hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan sebelum makan, memastikan air yang diminum merupakan air bersih, buang air besar di jamban, sanitasi sehat.

penulis : Fachruddin Aji
editor : Saldi Hermanto

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *