Terima Rp2,5 Juta per Bulan, Mahasiswa Tuntut Uang Saku Dinaikkan, YPMAK Minta Prestasi Ditingkatkan

Tim monev YPMAK
Tim monev YPMAK saat menggelar diskusi bersama mahasiswa di Semarang, Jumat (23/9/2022). Foto: Yonri/seputarpapua

SEMARANG | Mahasiswa penerima beasiswa YPMAK, pengelolaa dana kemitraan PT Freeport Indonesia di Semarang menuntut uang saku mereka dinaikkan.

Hal tersebut dikemukakan para mahasiswa dalam forum terbuka rangkaian dari Monitoring dan Evaluasi YPMAK di Gedung PMI Semarang, Jumat (23/9/2022) sore.

Dalam pertemuan tersebut, perwakilan mahasiswa, Tianus Uamang juga menuntut uang saku harus ditambah mengingat adanya kenaikan BBMN. Tianus juga menuntut penambahan kuota mahasiswa dan adanya ‘program penyelamatan’ bagi mahasiswa yang berprestasi rendah.

“Ini harus dipikirkan juga. Ini yang penting. BBM naik, semua naik,” kata Tianus

Menanggapi hal ini, Sekretaris YPMAK Johana Saidui mengakui bahwa hal tersebut sulit untuk dipenuhi dalam waktu dekat. Namun usulan terkait kenaikan uang saku akan diteruskan ke para pembina di tingkat atas.

“Iya. Terkait ini, nanti kami sampaikan. Tapi selain kebutuhan kalian, saya juga mau mendengar kalian punya perkembangan akademik. Bisa selesai tepat waktu kah atau bagaimana. Mari kita sama kembali melihat ini,” imbau Johana.

Johana juga menegaskan pihaknya tidak dapat memberikan ‘program penyelamatan’ sebab dinilai memanjakan mahasiswa dan berpotensi memperpanjang masa studi melebihi dari masa beasiswa yakni lima tahun.

“Kalau mau diselamatkan, apanya yang diselamatkan? Kalau diselamatkan terus, lalu kapan adik-adik kalian bisa dapat beasiswa? Saya rasa ini terlalu memanjakan,” tegas Johana.

Sementara, Kepala Divisi Perencanaan Program Pendidikan YPMAK, Feri Magai Uamang menekankan pentingnya mahasiswa meningkatkan semangat belajar.

“Saat ini kita tidak bisa tambah kuota lebih dari 3000 karena itu kebijakan pembina. Lebih baik kalian fokus pada studi kalian,” tegas Feri.

Hal ini ia katakan sebab uang saku yang diberikan YPMAK dinilai sudah sangat mumpuni yakni Rp2,5 juta per bulan. Biaya tersebut langsung ditransfer ke rekening penerima beasiswa.

Diluar itu, biaya studi, uang fotocopy, dan pembelian buku sudah ditanggung YPMAK dan jika terdapat pengeluaran biaya dari mahasiswa terkait hal ini, dapat dilakukan penggantian.

Deputi Bidang Program YPMAK, Oni Miranda menegaskan, hal-hal yang dianggap sebagai prioritas menurut mahasiswa harus dianalisis lebih mendalam.

Sebab, pihaknya tidak hanya fokus pada pembiyaan mahasiswa di kota studi. Namun juga terdapat program lain seperti program ekonomi dan kesehatan bagi masyarakat asli Mimika.

“Kalau mau bicara prioritas, kita coba lihat lagi sekolah-sekolah di pesisir, pedalaman. Mereka juga butuh bantuan dan biaya yang besar. Tidak melulu kita harus fokus pada biaya kalian,” tegas Oni.

Tanggapi Berita ini

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.