Kenali Risiko Stroke Anda dengan 10 Tes Ini

Kamis, 17 Jan 2019 13:43 WIT
Ilustrasi

JAKARTA | Stroke bisa datang secara tak terduga. Tidak ada yang dapat benar-benar memperkirakan kapan stroke akan menyerang. Akan tetapi, ada beberapa cara untuk mengenali risiko stroke pada seseorang, yakni dengan cara tes.


Beberapa tes medis untuk stroke relatif sederhana, bahkan bisa Anda lakukan sendiri di rumah. Dengan melakukan tes, Anda jadi mengetahui seberapa besar kemungkinan Anda terkena stroke.


Dilansir Verywell Health, sepuluh tes berikut mungkin dapat membantu mengenali risiko Anda terhadap stroke:

1. Auskultasi jantung

Saat auskultasi jantung, dokter akan mendengarkan jantung Anda menggunakan stetoskop. Bunyi yang dibuat jantung Anda dapat membantu dokter mengidentifikasi apakah Anda memiliki masalah yang melibatkan salah satu katup jantung atau irama detak jantung yang tidak teratur.

Masalah katup jantung dan masalah irama jantung diketahui menyebabkan pembekuan darah yang berujung pada stroke. Untungnya, penyakit katup jantung dan irama jantung dapat diobati setelah terdeteksi.

Dalam beberapa kasus, jika Anda memiliki suara jantung yang abnormal, mungkin Anda memerlukan tes jantung medis lainnya, seperti elektrokardiogram (EKG) atau ekokardiogram.

2. EKG

EKG memantau irama jantung Anda dengan menggunakan cakram logam kecil yang diposisikan secara dangkal di kulit dada. Tes ini tidak sakit dan tidak melibatkan jarum, serta tidak mengharuskan Anda untuk minum obat apa pun.

Ketika Anda melakukan tes EKG, pola gelombang yang menyesuaikan dengan detak jantung Anda akan terlihat di komputer. Pola gelombang ini dapat dicetak di atas kertas, kemudian diberikan kepada dokter untuk dianalisis. Jika denyut jantung atau irama jantung Anda tidak normal, hal tersebut dapat menempatkan Anda pada risiko stroke.

3. Ekokardiogram

Ekokardiogram adalah jenis ultrasonografi (USG) jantung yang digunakan untuk mengamati pergerakan jantung. Alat ini dapat merekam gerak jantung, serta tidak memerlukan suntikan.

Biasanya ekokardiogram membutuhkan waktu lebih lama daripada EKG. Jika Anda memutuskan untuk melakukan tes ekokardiogram, dokter mungkin akan merekomendasikan Anda untuk berkonsultasi lebih lanjut dengan ahli jantung.

4. Tekanan darah

Lebih dari 3/4 kasus stroke diawali dengan hipertensi. Seseorang dikatakan mengalami hipertensi jika tekanan darahnya lebih dari 140/90 mmHg. Seiring waktu, hal ini dapat menyebabkan penyakit pembuluh darah di jantung, arteri carotid, dan pembuluh darah di otak. Semua kondisi tersebut dapat memicu stroke.

Kabar baiknya, hipertensi dapat dikelola dengan gaya hidup sehat. Jalanilah pola makan yang baik jika Anda memiliki tekanan darah tinggi. Kombinasikan juga dengan manajemen berat badan, pengelolaan stres, dan konsumsi obat-obatan berdasarkan resep dokter.

5. Kadar lemak dan kolesterol

Kadar kolesterol dan lemak darah dapat diukur dengan tes darah sederhana. Seperti yang Anda ketahui, kadar trigliserida dan LDL yang tinggi dapat meningkatkan risiko stroke, terlepas dari apakah penyebabnya genetik atau gaya hidup. Hal ini karena lemak dan kolesterol yang berlebihan dapat berkontribusi pada pembentukan gumpalan darah, yang pada akhirnya memicu stroke dan serangan jantung.

Pedoman untuk kadar lemak dan kolesterol darah yang baik adalah:

Di bawah 150 mg / dL untuk trigliserida
Di bawah 100 mg / dL untuk LDL
Di atas 50 mg / dl untuk HDL
Di bawah 200 mg / dL untuk kolesterol total

6. Gula darah

Orang yang menderita diabetes lebih mungkin untuk terserang stroke. Mereka juga lebih mungkin untuk mengalami stroke pada usia yang lebih muda. Ada beberapa tes yang biasa digunakan untuk mengukur gula darah, yakni:

Tes gula darah puasa mengukur kadar glukosa darah Anda setelah 8-12 jam puasa dari makanan dan minuman.

Tes hemoglobin A1c akan mengevaluasi kadar glukosa Anda selama 6-12 minggu sebelum tes dara

Hasil tes keduanya dapat digunakan untuk menentukan apakah Anda memiliki diabetes borderline, diabetes dini, atau diabetes tahap akhir yang tidak diobati.

7. Kecepatan berjalan

Sebuah studi ilmiah dari Albert Einstein College of Medicine mengamati kecepatan berjalan 13.000 wanita. Peneliti lalu menemukan bahwa mereka yang kecepatan berjalannya lebih lambat memiliki risiko stroke 67% lebih besar daripada mereka yang kemampuan berjalannya lebih cepat.


Aktivitas berjalan bergantung pada sejumlah faktor seperti kekuatan otot, koordinasi, keseimbangan dan fungsi jantung, serta paru-paru. Oleh karena itu, kecepatan berjalan yang lambat dapat menjadi pertanda akan adanya risiko stroke.


Albert Einstein College of Medicine mendefinisikan kecepatan berjalan cepat sebagai 1,24 meter per detik, kecepatan berjalan rata-rata 1,06-1,24 meter per detik, dan kecepatan berjalan yang paling lambat adalah 1,06 meter per detik.

8. Berdiri dengan satu kaki

Para peneliti di Jepang menyimpulkan bahwa berdiri dengan satu kaki selama lebih dari 20 detik adalah indikator lain yang dapat menentukan peluang seseorang terkena stroke. Studi ini menemukan bahwa orang dewasa yang tidak mampu berdiri dengan satu kaki selama lebih dari 20 detik cenderung memiliki riwayat silent stroke.


Silent stroke adalah stroke yang umumnya tidak menyebabkan gejala neurologis yang jelas atau tidak mencolok, seperti adanya gangguan keseimbangan dan memori. Biasanya gejala terebut tidak terlalu diperhatikan, dan dengan demikian seseorang yang mengalami silent stroke biasanya tidak menyadarinya.

9. Merawat diri sendiri (independent self-care)

Tes yang tampak sederhana ini bisa menentukan apakah Anda berisiko stroke atau tidak. Coba lihat kemampuan Anda dalam melakukan tugas-tugas individu, seperti berpakaian, menyikat gigi, mandi, menjaga kebersihan pribadi Anda sendiri, dan makan sendiri.


Jika kemampuan Anda dalam menyelesaikan tugas-tugas menurun, hal tersebut dapat menjadi pertanda stroke. Karena itu, bicarakan dengan dokter jika merasa diri Anda atau orang yang Anda cintai perlahan-lahan kehilangan kemampuan untuk merawat dirinya sendiri.

10. Auskultasi karotis

Anda memiliki sepasang arteri yang cukup besar di leher yang disebut arteri karotis. Arteri karotis turut membantu menyuplai darah ke otak Anda. Jika arteri ini terserang penyakit, akan terbentuk gumpalan darah yang bisa berjalan sampai ke otak. Nah, gumpalan darah ini dapat menyebabkan stroke dengan mengganggu aliran darah ke arteri otak.


Dokter dapat mengetahui apakah salah satu atau kedua arteri karotis Anda memiliki penyakit, dengan mendengarkan aliran darah di leher Anda menggunakan stetoskop. Jika suaranya dinilai abnormal, itu menunjukkan penyakit karotis dan Anda akan memerlukan tes lebih lanjut, seperti USG karotis atau angiogram karotis.


Itulah deretan tes yang bisa Anda jalani untuk memprediksi adanya risiko stroke. Tentu, cara yang terbaik adalah dengan mengonsultasikannya lebih lanjut dengan dokter supaya hasilnya benar-benar tepat.  (Batt/SP) 

Artikel ini telah tayang di klik dokter.com dengan judul "Kenali Risiko Stroke Anda dengan 10 Tes Ini" https://m.klikdokter.com/info-sehat/read/3621552/kenali-risiko-stroke-anda-dengan-10-tes-ini

Kategori:
Bagikan