Melihat Bupati Asmat dan Istri Pangkur Sagu pada FAP ke 36

Melihat Bupati Asmat dan Istri Pangkur Sagu pada FAP ke 36
Bupati Asmat Elisa Kambu dan Istri Orpa Kambu, Pangkur Sagu pada FEstival Asmat Pokman ke 36 tahun. Rabu (11/10/2023). (Foto: Anya Fatma/Seputarpapua)

Sagu menjadi salah satu makanan utama suku Asmat sejak dulu sampai kini.

Tepung sagu bisa dijadikan makanan mulai dibakar, dijadikan papeda dan berbagai jenis olahan lainnya.

Untuk mendapatkan bahan dasar sagu, masyarakat suku Asmat biasanya mengambilnya langsung di hutan.

Advertisements

Mengambilnya juga tidak mudah, dan tidak dilakukan sendirian.

Beberapa orang yang berpasangan bersama keluarga, biasanya bersama-sama pergi ke hutan untuk mengambil sagu.

Dimulai dari menebang pohon sagu, kemudian pangkur sagu dengan cara dipukul dengan alat berbentuk kapak yang terbuat dari kayu.

Pangkur sagu ini biasanya dilakukan oleh laki-laki.

Hasil sagu yang dipangkur, kemudian diambil oleh para Mama-mama untuk dibersihkan dan diperas sampai menghasilkan bahan dasar sagu untuk nantinya diolah.

Semuanya dilakukan secara tradisional dengan peralatan yang sangat sederhana.

Bahkan untuk memeras sagu, mama-mama menggunakan tangan secara manual.

Advertisements

Aksi pangkur sagu sampai menjadi bahan dasar sagu untuk dikonsumsi ini ditampilkan dalam Atraksi Pangkur Sagu pada Festival Asmat Pokman (FAP) ke 36 tahun, Rabu (11/10/2023).

Atraksi pangkur sagu ini, disaksikan ratusan pengunjung. Bahkan sebagian pengunjung juga ikut ambil bagian mencoba pangkur sagu langsung di batang pohon sagu yang disediakan.

Advertisements

Sejumlah pejabat, mulai Bupati Asmat Elisa Kambu, Sekda Asmat, sampai pastor dan suster juga ikut pangkur dan peras sagu.

Bupati Asmat terlihat begitu piawai mulai dari membuka kulit pohon sagu sampai pangkur sagu.

Bupati Asmat Elisa Kambu dan Istri Orpa Kambu, Pangkur Sagu pada FEstival Asmat Pokman ke 36 tahun. Rabu (11/10/2023). (Foto: Anya Fatma/Seputarpapua)

Advertisements

Tidak ketinggalan, istrinya, Orpa Kambu juga ambil bagian memeras sagu hasil pangkur dari sang suami.

Setelah itu, keduanya menuju batang pohon sagu lain yang telah disediakan untuk mengambil ulat sagu.

Ulat sagu ini juga menjadi idola orang orang, bisa dimakan langsung atau dipanggang terlebih dulu.

Advertisements

Bupati bersama istri mengambil satu persatu ulat sagu dari batang pohon, kemudian memakannya langsung hidup-hidup.

Keduanya juga memberikan kepada pengunjung dari luar Asmat, yang tampak kagum dan sedikit terlihat takut saat diminta untuk mencoba memakannya.

Setelah mengambil ulat sagu, Bupati dan istri lalu bersama-sama menjahit daun untuk membungkus sagu dan ulat sagu untuk dibakar.

Istrinya melanjutkan membungkus, Bupati mulai menyiapkan api.

Advertisements

Ulat sagu kemudian dibakar hingga matang dan dinikmati bersama.

penulis : Anya Fatma
editor : Iba

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *