Cerita Atlet Papua Yulius Uwe, ‘Superman’ Penjaga Arena Atletik Timika

LARI | Yulius Uwe di Arena Atletik Sport Complex (MSC) yang dibangun PT Freeport Indonesia. (Foto: Mujiono/Seputarpapua)
LARI | Yulius Uwe di Arena Atletik Sport Complex (MSC) yang dibangun PT Freeport Indonesia. (Foto: Mujiono/Seputarpapua)

“Superman! Superman! Superman!” Teriakan penonton memberi semangat kepada Yulius Uwe yang memegang obor Sea Games 1987 di Stadion Gelora Senayan.

Memori kebanggaan 34 tahun itu kembali diingat Yulius Uwe atau yang akrab disapa Ulis saat Seputarpapua.com mengajaknya bernostalgia sembari duduk santai di Venue Atletik Mimika Sport Complex, Timika, Papua pada Selasa (11/8/2021) sore.

Ulis yang lahir di Kokonao, Distrik Mimika Barat pada 12 Juni 1965 tidak menyangka kebiasaan bermain di atas pasir dan lumpur saat kecil membawa ‘Sang Superman dari Belukar’ menjadi atlet disegani di masanya.

Advertisements

Atlet Dasalomba asli Papua ini pernah mempersembahkan tiga medali emas kepada Ibu Pertiwi.

Medali pertama diraih pada SEA Games di Bangkok-Thailand tahun 1985. Kemudian Asian Games di Seoul, Korea Selatan pada 1986 dan terakhir di SEA Games Jakarta-Indonesia pada tahun 1987.

Popularitasnya pun pernah diabadikan oleh Majalah POPULAR terbitan Februari, 1988. Di ujung wawancara bersama Jurnalis POPULAR Nita Saftina, Ulis menuturkan harapan dan cita-citanya bila kelak tidak lagi menjadi atlet.

“Setelah tidak mungkin berprestasi lagi, saya mau mengabdi menjadi Pegawai Negeri atau tentara. Saya senang kalau menjadi Prajurit Angkatan Darat dan ditugaskan memegang senjata berat. Kalau bertempur mati, yah… habis,” kata penutup Ulis yang ditulis Nita, 1988.

Saat ditanya perihal wawancara itu, Ulis hanya menjawab, “Saya tidak ada pikiran atau bercita-cita jadi atlet. Ini terjadi dengan sendirinya. Mungkin karena kebiasaan bermain di pasir dan lumpur membuat saya jadi kuat,” tuturnya.

Pria kumis tipis dan sudah beruban itu menceritakan, selepas dari bangku Sekolah Menengah Pertama di Kokonao, ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru Olahraga (SGO) Jayapura, Slsetara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) waktu itu.

Saat berguru di SGO, Ulis sering melihat para atlet senior berlatih dan bercengkerama sesama atlet. Ia pun terpikir menjadi atlet.

Advertisements

“Awalnya saya itu atlet tinju. Lalu mau jadi pemain sepakbola. Tapi karena di sepakbola banyak saingan, pelatih minta saya masuk ke dasalomba,” ujar Ulis.

Dari keinginannya itu, Ulis mulai serius berlatih lempar lembing dan lompat jauh. Sesekali dirinya sempatkan untuk bermain boli voli dan sepak bola.

Advertisements

 

 

Advertisements

Melihat kemampuannya di cabang atletik, Ulis mulai dilirik sang pelatih. Sehingga saat naik ke kelas 2, dirinya mulai fokus latihan dan sempat mengikuti tes lompat jangkit di Solo, Jawa Tengah pada tahun 1983, saat itu bertepatan dengan peresmian Stadion Sriwedari.

“Kemudian tahun 1984 mengikuti kejuaraan nasional tingkat junior dan berhasil memecahkan rekor. Saat itulah awal mula saya ikut beberapa even, karena sudah ditarik ke Pelatnas Atletik Indonesia,” ujarnya.

Usai evaluasi belajar tahap nasional (Ebtanas) atau sekarang Ujian Nasional (Unas), Ulis berangkat ke Arizona, Amerika Serikat untuk mengikuti training persiapan SEA Games XIII di Bangkok, Thailand pada tahun 1985.

Advertisements

Di SEA Games Bangkok Ulis harus menghadapi atlet-atlet dari beberapa negara tetangga, seperti Thailand, Filipina, Malaysia, Myanmar, dan Kamboja.

“Lawan terberat saat itu adalah atlet dari dua negara, Thailand sama Malaysia. Namun dengan niat dan percaya diri, serta dukungan dari pelatih saya mampu meraih medali emas dan memecahkan rekor dengan perolehan nilai 6746,” katanya.

Pada SEA Games yang diselenggarakan di Bangkok-Thailand tahun 1985, Indonesia meraih peringkat ke 2 dari 8 negara. Prestasi ini diperoleh Indonesia karena meraih 211 medali dengan rincian, medali emas 62 buah, perak 73 buah dan perunggu 76 buah.

Tidak berhenti disitu saja, Yulius Uwe juga diikutsertakan dalam Asian Games di Korea Selatan pada tahun 1986. Ulis sempat menjalani pelatihan di Darmstadt yang saat itu masuk di wilayah Republik Jerman Barat.

Advertisements

Saat perhelatan Asian Games di Korea Selatan, pria asal Papua – kala itu masih Irian jaya – ini ditunjuk untuk membawa bendera kontingen. “Ini suatu kebanggaan yang luar biasa, saya rasakan,” ujarnya.

Selanjutnya, di 1987 dirinya kembali mengikuti SEA Games di Jakarta. Di ajang itu, dirinya bersama ditunjuk untuk membawa dan menyalakan obor SEA Games.

“Di SEA Games Jakarta, saya memiliki tanggung jawab besar. Puji Tuhan, saya kembali memecahkan rekor dan meraih medali emas. Dan mendapatkan piagam penghargaan dari Menteri Olahraga,” ungkapnya.

“Sampai sekarang, rekor yang pernah saya raih di dasalomba belum terpecahkan,” kata Ulis.

Ketika ditanya perihal fasilitas yang diberikan Negara usai prestasinya, Ulis menjawab dengan tegas sambil tersenyum ramah, “Hanya ucapan terima kasih sambil jabat tangan.”

“Bapak pernah bertemu Soeharto?” Tanya Seputarpapua.com.
“Pernah. Waktu itu sebelum berangkat ke Korea,” kata Ulis.
“Apa yang dibilang Presiden?”
“Tidak ada. Cuma kasih nasehat dan motivasi untuk Olimpiade.”
“Bapak tidak bertanya atau minta sesuatu ke Pak Harto?”
“Hahaha, mana berani saya. Suasana saat itu santai tapi tegang,” ujar Ulis sambil ketawa kecil.

Ulis merasa beruntung, setelah hampir 30 tahun melalang buana tak tentu arah, pada 2018, Ulis dipercayakan oleh Manajemen PT Freeport Indonesia untuk menjadi Penanggung Jawab Prestasi di Mimika sport Complex.

“Sebelum saya datang, banyak orang kerasukan di sini. Ada pekerja bangunan kerasukan di tribun sini, ada petugas ring tinju dua hari tidak sanggup pasang tali ring, ada yang teriak-teriak di belakang tribun,” ucap Ulis.

“Setelah saya datang. Saya cuma tarung sirih pinang lalu bicara dengan moyang. Setelah itu semua aman sampai detik ini,” kata Ulis.

“Anak-anak yang jaga di sini sama petugas kebersihan bilang, tuan rumah sudah datang jadi amam. Maksudnya itu, saya yang punya rumah ini,” ujar Ulis sambil meraba tribun seolah ingin menggenggamnya.

Setiap hari, Ulis pergi-pulang kost ke MSC. Aktivitas ini rutin dilakukan sejak ia bekerja di bawah manajemen PTFI.

Di kostnya, di Jalan Poros SP 5, Timika, Ulis biasanya membantu warga Timika yang membutuhkan obat herbal. Ulis percaya, bahwa obor api abadi yang dulu pernah dibawanya menyalakan Obor Raksasa di SEA Games 1987 itu membuatnya memiliki ‘keistimewaan’.

Ia percaya, bahwa apapun yang dilakukan oleh tangan kanannya itu dapat membuahkan hasil yang ajaib.

“Api itu seperti menyatu dengan saya. Ada bapak satu yang kencing manis sudah berapa tahun, minum sarang semut dari saya. Sekarang sudah sembuh,” aku Ulis.

Tidak banyak kegiatan latihan yang dilakukannya seperti masa jayanya. Selain duduk nongkrong atau memperhatikan pekerja membersihkan landasan lari atletik, Ulis biasanya baring-baring di Tribun Barat MSC.

Sehari sebelum Seputarpapua datang nongkrong bersamanya, Ulis sempat mendapat kunjungan dari sejumlah wartawan. Para wartawan menjejakinya dengan berbagai pertanyaan masa lalu.

Baginya, seolah masa jayanya adalah perhatian publik. Sedangkan masa sekarang yang dihadapinya adalah sisa waktu dari karirnya yang tidak perlu diarsipkan.

“Wartawan itu tidak akan peduli kau jatuh, kau cedera, luka di sini atau di situ. Wartawan akan lihat kau kalau kau sudah pegang medali. Itu prinsip saya,” ujar Ulis.

penulis : Yonri
editor : Mish

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan