Ibu Hamil Disarankan Konsumsi Obat Anti Malaria Secara Berkala

Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Primer dan Rujukan Dinkes Mimika, dr. Helena Burdam
Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Primer dan Rujukan Dinkes Mimika, dr. Helena Burdam

TIMIKA | Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Papua tengah melaksanakan Program Pencegahan Malaria Pada Kehamilan Secara Berkala dengan Obat Anti Malaria (PEMILA-OAM).

Program tersebut dikhususkan pelayanan kepada ibu hamil.

Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Primer dan Rujukan Dinkes Kabupaten Mimika, dr. Helena Burdam menjelaskan, pemberian obat ke ibu hamil ini tanpa melihat gejala dan pemeriksaan langsung.

Ia mengatakan, pemberian obat ini pada trimester kedua hingga ibu melahirkan, yakni dari usia kehamilan lebih atau sama dengan 13 minggu.

Jika dihitung dari 13 minggu hingga melahirkan, maka pemberian obat dilakukan sekitar 4 hingga 5 kali karena ibu mengandung hingga melahirkan berada di usia 36 sampai 40 minggu.

“Jadi selama kehamilan ibu hamil mendapatkan obat misalnya di usia 13 minggu diberikan 9 tablet dihari pertama hingga ke tiga (sehari 3 tablet). Lalu setelah 4 minggu berjalan akan kembali dapat obat malaria dengan dosis yang sama,” jelas Helena kepada awak media, Rabu (12/1/2022).

Obat malaria yang diberikan adalah obat yang memang dikonsumsi setiap orang ketika sakit malaria (obat biru), namun berbeda karena ibu hamil tidak mendapatkan obat Primaquin.

Nantinya, ibu hamil yang memeriksakan diri akan discreening dahulu dan dipastikan tidak ada gejala. Juga tentunya berdasarkan persetujuan dari ibu yang mengandung, dengan diberikan edukasi bagi ibu hamil tersebut.

Menurut Helena, tujuan dari pemberian obat anti malaria ini untuk menurunkan angka kesakitan selama kehamilan, terkait dengan malaria dan juga angka kematian baik pada ibu hamil maupun pada janin yang dikandungnya.

Helena mengatakan, malaria pada saat kehamilan sangat mempengaruhi karena nyamuk malaria menyerang sel darah merah. Sehingga jika Ibu hamil terserang malaria, maka bisa terkena anemia sementara ibu hamil membutuhkan asupan gizi dan tidak boleh sampai terkena anemia.

“Kalau dia sudah kurang darah bagaimana dengan pertumbuhan janinnya, otomatis akan mengganggu pertumbuhan janin yang dikandungnya sehingga berat badan anak saat lahir bisa rendah,” jelasnya.

Berat badan bayi yang baru lahir normalnya adalah 2,5 kg. Jika ibu hamil sering terkena malaria, maka bisa terkena anemia dan kemungkinan berat badan anak bisa kurang dari 2,5 kg.

“Jadi parasit itu menginveksi sel darah merahnya akhirnya gizi dan zat zat menjadi berkurang di plasentanya sehingga itu mengganggu pertumbuhan berat bayi bahkan kalau ibunya sampai anemia bisa juga keguguran,” ujarnya.

Disamping itu juga, ibu hamil harus mencegah dengan selalu menggunakan kelambu saat tidur kemudian menjaga kebersihan sekitar rumah sehingga nyamuk tidak menjadikan perlindungan di sekitar rumah.

Helena menjelaskan, pada tahun 2014 sampai 2016 pihaknya melakukan penelitian bahwa dengan cara pemberian obat malaria pada ibu hamil tanpa melihat gejala pada pemeriksaan, itu terbukti dapat menurunkan kasus seperti berat badan rendah, kemudian keguguran, lahir sebelum waktunya dan juga penularan malaria dari ibu yang menderita malaria ke janin yang dikandungnya.

Dalam penelitian tersebut juga jumlah ibu hamil dengan malaria di Mimika didapati 16,8 persen.

Untuk itu Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama dengan Dinas Kesehatan dalam hal ini di daerah untuk menjalankan program implementasi dari hasil penelitian sebelumnya.

Pelatihan Petugas

Untuk mengimplementasikan program tersebut, pada Rabu (12/2/2022) di Hotel Horison Diana, Dinas Kesehatan memberikan pelatihan kepada 10 Puskesmas yang ada di dalam kota yang terdiri dari penanggung jawab KIA juga pemilah OAM yang akan melihat bagaimana pemberian obat kepada Ibu hamil.

Juga turut terlibat pihak farmasi di Puskesmas tersebut, juga penanggung jawab malaria di Puskesmas serta bidannya.

Selain itu, ada kolaborasi pelayanan yang terpadu. Ada pelayanan kesehatan yang memperhatikan layanan di setiap Puskesmas, juga pihak program malaria yang turun dari bidang pencegahan dan pengendalian penyakit.

Selain itu, keterpaduan dari program dimana karena ini sasarannya ibu hamil, maka ada bidang kesehatan masyarakat lebih spesifiknya adalah kesehatan keluarga yang mengurusnya adalah kesehatan ibu dan anak.

“Dari workshop hari ini mereka (petugas) bisa tau apa yang mereka lakukan di tempat kerja mereka baik didalam puskesmas maupun didalam gedung dalam hal ini di posyandu terkait dengan pelayanan ibu hamil,” katanya.

Dampak dari program ini adalah penerima manfaat yakni ibu hamil dan bayi yang baru lahir bisa sehat.

Ini juga berkaitan kedepan eliminasi malaria Kabupaten Mimika pada tahun 2026.

Sehingga kalau dari kelompok resiko tinggi dan janin yang dikandung ibu hamil sudah bisa ditekan kesakitan malarianya maka yang lainnya pun diharapkan bisa dilakukan bersama sama.

Dengan demikian, Ia berharap kedepan malaria di Kabupaten Mimika lewat program ini bisa menurunkan angka kesakitan bahkan kematian bagi ibu hamil dan janin yang dikandung, mengingat Mimika merupakan daerah endemik malaria.

“Dan petugas juga harus paham karena disitu ada kerjaan yang harus dilakukan. Pertama harus discreening dulu ibu hamil yang masuk untuk pemberian obat ini yakni ditrimester kedua diusia kehamilan itu lebih atau sama dengan 13 minggu dan selanjutnya,” jelas Helena.

reporter : Kristin Rejang

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.