Malaria Penyakit Mematikan, Tapi ini Penyebabnya yang Selalu Diabaikan

Ilustrasi (Foto: freepik.com)
Ilustrasi (Foto: freepik.com)

TIMIKA | Pencegahan malaria sebagai salah satu penyakit infeksi mematikan dianggap bukan sesuatu teramat sulit, namun dibutuhkan kesadaran secara kolektif.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Timika, dr. Leonard Pardede, Sp.OG(K) mengatakan, pencegahan adalah bagian terpenting dalam penanggulangan malaria. Bukan pengobatannya.

“Fokusnya adalah pencegahan. Pengobatan itu sebenarnya lini berikutnya. Karena lebih baik mencegah dari pada mengobati,” katanya kepada Seputarpapua.com di Timika, Rabu (24/8/2022).

Menurut dia, pencegahan malaria bukan sesuatu yang terlalu rumit. Pada intinya, kata dia, jangan sampai digigit nyamuk sebagai perantara parasit plasmodium.

“Tidak susah selama masyarakat itu menjaga kebersihan lingkungan. Menjaga supaya tidak digigit nyamuk, tentu dengan tidur di dalam kelambu. Jangan pasang kelambu tapi dia tidur di luar,” katanya.

Persoalan mendasar, sebut Leo, adalah masalah sampah dan drainase yang buruk, kemudian terjadi genangan air tempat nyamuk Anopheles pembawa parasit bersarang.

“Prinsipnya bagi saya, malaria ini adalah kerja bersama. Di sini ada teori lingkungan, nyamuk, dan hostnya adalah manusia. Ini tidak bisa diintervensi satu-satu. Harus tiga-tiganya,” kata dia.

Menurutnya, pemerintah tidak perlu jauh-jauh studi banding ke luar negeri untuk belajar penanggulangan malaria. Kuala Kencana, sebut dia, bisa menjadi kawasan percontohan.

Kuala Kencana, kawasan perumahan PT. Freeport Indonesia adalah distrik modern berkonsep ramah lingkungan. Kawasan ini menerapkan sistem pengolahan limbah rumah tangga terpusat, instalasi bawah tanah, dan bebas sampah.

“Tidak usah jauh-jauh ke Singapura, coba kita ke Kuala Kencana saja. Apakah ada genangan air lama-lama, bagaimana drainase mereka. Apakah manajemen sampah mereka ada. Kuala kencana itu bagian yang kita harus contoh,” kata dr. Leo.

Ia mengatakan, meningkatnya kasus malaria di Mimika belakangan ini menjadi kerisauan masyarakat, sebab berdampak terhadap kebutuhan obat yang tinggi.

“Situasi malaria ini mengkhawatirkan karena kalau orang sudah cari-cari obat malaria, tentu urusannya adalah obat biru yang masyarakat bilang biasa mereka konsumsi,” katanya.

Keterbatasan DHP Frimal atau dikenal ‘obat biru’ memaksa penggunaan Kina yang diketahui punya efek samping tidak menyenangkan, dan harus dikonsumsi dalam waktu relatif lebih lama.

“Kalau tidak dapat obat biru kemudian menggunakan kina, dia menyebabkan dampak pusing, muntah-muntah, telinga berdengung hingga merasa tuli. Keresahannya ada di situ. Sehingga, masyarakat itu maunya obat biru. Bahkan membeli pun mereka mau,” kata dr. Leo.

Kabar baiknya, dr. Leo yang juga Direktur RS Kasih Herlina Timika telah dapat informasi bahwa obat biru dari Kemenkes melalui Dinkes Provinsi Papua akan segera didistribusi.

“Saya sudah dapat informasi, minggu depan itu sudah ada di Timika di Dinas Kesehatan. Kekosongan obat ini bukan karena kita tidak mampu beli, tapi karena produksinya saja dari luar negeri yang tidak ada,” pungkasnya.

 

Tanggapi Berita ini
reporter : Sevianto Pakiding
editor : Aditra

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.