Mengenal Eco-Edukasi Ala Sekolah Asrama Taruna Papua di Timika

Para siswa-siswi SATP saat menunjukan pembuatan kompos serta penanaman tumbuhan sebagai wujud Eco-Education kepada para peserta Putra-Putri Alam Lestari, di Lingkungan Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), Selasa (28/3/2023) (Foto: Mujiono/Seputarpapua)
Para siswa-siswi SATP saat menunjukan pembuatan kompos serta penanaman tumbuhan sebagai wujud Eco-Education kepada para peserta Putra-Putri Alam Lestari, di Lingkungan Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), Selasa (28/3/2023) (Foto: Mujiono/Seputarpapua)

TIMIKA | Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) dikelola oleh Yayasan Pendidikan Lokon, sebagai Mitra YPMAK Pengelola Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia.

Sekolah ini menerapkan pembelajaran yang menarik. SATP terdaftar sebagai pelaksana kurikulum merdeka, mandiri, berbagi. Bahkan SATP memiliki kurikulum yang dikembangkan secara mandiri yakni Kurikulum Berbasis Kehidupan Kontekstual Papua.

Kepala Sekolah SATP, Johana Tnunay saat ditemui wartawan di lingkup sekolah Taruna Papua, Selasa (28/3/2023) menjelaskan penerapan kurikulum tersebut telah melalui banyak proses, dimulai dari hasil psikotes para siswa-siswi SATP.

“Kami melihat kondisi anak melalui psikotes, hasilnya hampir 90 persen anak-anak tidak ke SMA (memilih sekolah kejuruan) setelah mengetahui hasilnya, kami pun mengubah pendekatan pembelajaran, dengan memulai (anak) kelas 1-3 belajar melalui permainan, kelas 4-6 itu melakukan observasi, kemudian SMP pembelajarannya berbasis research (penelitian dan praktikum),” jelasnya.

SATP menurut Johana, juga melakukan pengembangan kurikulum 13 berdasarkan hasil riset yang dilakukan, agar sesuai dengan kurikulum merdeka yang diterapkan secara nasional. Sehingga terjadilah revolusi belajar.

“Pijakan (hasil riset Kurikulum K13) itulah yang kami kembangkan dalam revolusi belajar di SATP (kelas 1-3 belajar melalui permainan, kelas 4-6 itu melakukan observasi, kemudian SMP pembelajarannya berbasis research),” ucapnya.

 

 

SATP juga melakukan kunjungan di sekolah Green School di Bali dan sekolah alam di Yogyakarta untuk menemukan formula yang tepat untuk sistem pembelajaran di SATP.

Setelah melakukan kunjungan dan berbagai riset, maka dibentuklah sebuah pembelajaran yang konsepnya tidak hanya menghafal tetapi mengingat melalui praktikum langsung berbasis lingkungan atau alam, juga kehidupan di Papua

“Kaitan dengan revolusi belajar kami sudah menerapkan merdeka (belajar) tadi, karena anak-anak sudah belajar melalui laboratorium alam yang ada menggunakan alam dengan scientific approach (pendekatan sains),” tegasnya.

Kata Johana, seluruh laboratorium alam disediakan untuk mendukung dan mengembangkan pembelajaran, mulai dari tanaman hingga hewan disediakan di sekolah.

Hasil dari pembelajaran berbasis praktikum, juga kurikulum berbasis kehidupan kontekstual Papua dibalut sistem kurikulum merdeka, mandiri, berbagi, SATP menerapkan program Eco-Edukasi.

“Hasil dari perkembangan tadi, kami pun sampai ke Eco-Edukasi, karena sampah di kita cukup banyak, sampah ini kami lihat bukan sebagai masalah tetapi peluang, maka kami ingin kelola sehingga bernilai ekonomis. Akhirnya hal itu dimasukan dalam program reguler maupun non reguler, jadilah produk Eco-Enzym,” katanya.

Produk Eco-Enzym pun saat ini kata Johana sudah berkembang menjadi beberapa hal seperti edukasi pembuatan pupuk, pembuatan sabun, lilin, sabun cuci piring, pembasmi lalat juga pembersih lantai, hingga menjadi shampo dari buah merah, juga parfum dari lavender.

“Apa yang orang bilang tidak digunakan tapi siswa ini bisa mengembangkan itu, itulah yang disebut dengan Eco-edukasi (memberdayakan lingkungan) tadi, dan ini juga masuk di kurikulum, baik di kelas maupun di luar kelas,” katanya.

 

 

Yohana melanjutkan bentuk implementasi lain dari kurikulum yang diterapkan adalah kegiatan siswa di dalam kelas hanya 40 persen sementara selebihnya berada di luar kelas.

” Jadi mereka tadi praktek (membuat kompos) itu membangun teori berfikir, teorinya seperti ini, dituangkan kedalam kehidupan real (nyata), anak pun menemukan pembentukan karakter dengan pedekatan sains,” katanya

Yohana menyebut semua peserta didik di SATP mendapatkan pola pendidikan yang sama.

“Semua sama (pola pendidikan), teori ini kan dari orang, nah anak-anak perlu melakukannya melalui pengalaman nyata tadi, kemudian menemukan kesimpulan, itu baru membangun konsep berfikir mereka,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Yayasan Pendidikan Lokon (YPL), Andreas Ndityomas menerangkan kurikulum yang diterapkan SATP mendorong agar sensorik, motorik, dan kongnisi atau seluruh indra yang dimiliki siswa aktif dalam proses untuk mengerti dan memahami secara utuh.

“Itu yang disebut pembelajaran holistik,” ujarnya.

Andreas mengatakan,banak akan lebih mengerti sebuah pembelajaran atau teori, apabila dilakukan tidak hanya membahas secara teoritikal tetapi harus diikuti dengan praktikum atau pembuktian dari konsep teori yang diajarkan.

“Jadi sekarang anak-anak tidak lagi menghafal, itulah kegagalan pendidikan Indonesia ada disitu (mengajarkan teori tanpa praktikum), seharusnya mereka (siswa-siswi) diajak untuk aktif,” tuturnya.

penulis : Fachruddin Aji

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *