Ungkapan Pedagang ‘Cakbor’ di Pasar Sentral yang Harus Pindah Lapak

Ungkapan Pedagang ‘Cakbor’ di Pasar Sentral yang Harus Pindah Lapak
Wa Ode, pedagang cakbor saat melayani pembeli di lapaknya. (Foto: Anya Fatma/Seputarpapua)

TIMIKA | Beberapa waktu lalu, Dinas Perindustiran dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika, Papua Tengah melakukan sosialisasi pemindahan pedagang pakaian bekas (Cakbor) di lahan depan Pasar Sentral Timika.

Ada sekitar 14 pedagang cakbor yang masih menjajakan dagangannya di lokasi yang nantinya akan dibangun gerai industri.

Sejumlah pedagang saat diwawancarai di lapaknya di depan Pasar Sentral Timika, Selasa (9/1/2024) mengungkapkan keluh kesah merka.

Wa Ode, pedagang cakbor ini mengaku agak berat untuk pindah ke gedung di dalam Pasar Sentral, ini karena kondisi kesehatannya yang tidak cukup baik.

“Kalau saya susah mau pindah keatas (Lantai 2 Gedung) karena kaki ini juga su tidak bisa,” kata Wa Ode sambil menunjuk kakinya.

Pedagang berusia 70 tahun ini tidak berjualan sendiri, tapi dengan suaminya, La Katupa. Suaminya sebelumnya berjualan di pinggiran jalan keluar Pasar Sentral kemudian dipindahkan ke depan pasar.

“Sudah mau tiga tahun di sini, dulu di bawah pohon sana,” katanya di sela-sela melayani pembeli.

Lapak yang ditempatinya saat ini juga disewa dari pemilik gedung Rp1 juta sebulan untuk dua lapak yang dipakai. Satu lapak kata dia tidak cukup untuk menampung dagangannya.

“Pendapatan tidak menentu, karena kita ambil barang di bos dan setor setiap minggu juga. Tapi Alhamdulillah ada untuk bisa bayar sewa lapak,” katanya.

Lapak yang disewa berukuran tiga kali empat tidak cukup untuk bisa menampung semua dagangannya, sehingga dia dan suaminya juga membuat tambahan bangunan dengan kayu dan atap seng.

“Kita tinggal di dalam sini juga,” ujarnya.

Meski agak berat untuk pindah, Wa Ode mengaku akan tetap pindah nanti saat bingungkan gerai industri sudah akan dibangun. Tetapi ia berharap bisa mendapat lapak di lantai 1 karena kondisinya yang sudah tidak memungkinkan.

“Mereka (Disperindag) juga bilang jual dulu sini, jadi kalau sudah mau bangun ya kita pindah,” ungkapnya.

Pedagang lainnya, Jirman saat ditemui di lapaknya juga mengungkapkan hal senada. Ia juga akan pindah ke dalam area pasar ketika sudah mulai pembangunan di lokasinya saat ini.

“Mau tidak mau ya kita harus pindah,” katanya

Jirman juga menyewa dua lapak dengan nilai Rp 1 juta sebulan. Pendapatannya juga kata dia tidak menentu.

Menurutnya, lapak di dalam gedung di area Pasar Sentral juga sangat kecil sehingga dikhawatirkan tidak cukup untuk menampung semua dagangannya. “Disana 3×3 saja ukurannya,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, saat Natal atau tahun baru kp pendapatannya bisa mencapai Rp1 juta sehari. “Kalau sejarang ini kita dapat Rp200 ribu sehari sudah Alhamdulillah,” pungkasnya.

penulis : Anya Fatma
editor : Iba

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *