Kabel Optik Pendeteksi Tsunami Dipasang di Perairan Indonesia Timur

Senin, 13 Jan 2020 23:16 WIT
ILUSTRASI | Buoy pendeteksi tsunami yang dipasang BPPT di salah satu perairan Indonesia. (Foto: Dok BPPT)

JAKARTA | Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan memasang empat cable based tsunameter (CBT), alat pendeteksi tsunami berbasis kabel optik di perairan Indonesia bagian timur. 

CBT baru akan ditempatkan di sekitar Halmahera, dan delapan buoy di sejumlah perairan Indonesia lainnya untuk memperkuat sistem deteksi dan peringatan dini tsunami.

"Setidaknya ada empat lagi CBT di pulau-pulau di sekitar Halmahera, kemudian sulawesi dan lain sebagainya," kata Deputi Teknologi Pengembangan SDA BPPT, Yudi Anantasena, di Jakarta, Senin (13/1).

Pemasangan Ina-CBT dan buoy yang baru bertujuan untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami. Pada 2019, BPPT telah memasang empat buoy di selatan Kuta, Kabupaten Badung Bali, selatan Malang, Jawa Timur, selatan Cilacap, dan Selat Sunda.

"BMKG harus memberikan peringatan potensi terjadi tsunami nanti diverifikasi oleh buoy dan CBT, apakah benar terjadi tsunami atau tidak sehingga BMKG bisa lebih cepat untuk mengonfirmasi ada atau tidaknya," kata Yudi. 

Ina-CBT dengan kabel fiber optik sepanjang 3,5 km dipasang di Pulau Sertung di sekitar Gunung Anak Krakatau sebagai bentuk mitigasi dan reduksi risiko bencana.

Ini dapat mengurangi korban jiwa dan kerusakan harta benda apabila terjadi letusan Gunung Anak Krakatau yang memicu adanya tsunami.

Selain itu, ada Ina-CBT dengan kabel optik sepanjang 7,5 kilometer di Pulau Sipora di Perairan Mentawai.

Yudi menjelaskan CBT yang akan dipasang di sekitar Halmahera dengan panjang kabel 25 kilometer.

"CBT untuk menghubungkaan pulau-pulau kecil, di situ akan kami pasang beberapa sensor. Dan kami punya dua hub di daratan sehingga punya kontrol yang lebih bagus," ujarnya.

Untuk pemasangan CBT baru itu, kata dia, tentu akan dilakukan tender untuk ditawarkan kepada pihak swasta dalam rangka melakukan pemasangan kabel bawah laut.

"Diharapkan tahun ini sudah terpasang," ujarnya.

Selain itu, Yudi menuturkan BPPT ke depan akan mengembangkan CBT dengan sensor yang lebih canggih yang dapat mendeteksi sejumlah fenomena laut, seperti suhu di bawah permukaan laut, tekanan dan seismik.

Sementara CBT buatan BPPT yang terpasang saat ini baru bisa mengukur perbedaan tekanan air hingga sangat kecil di bawah permukaan laut guna mendeteksi potensi tsunami yang muncul, dan gempa.


Sumber: Antara
Editor: Sev

 

 

Kategori:
Bagikan