Beberkan Malaria Penyakit Berbahaya, dr. Leo: Bisa Fatal Hanya Dalam Beberapa Hari

Ketua IDI Mimika, dr.Leonard Pardede, Sp. OG(K). (Foto: Sevianto/Seputarpapua)
Ketua IDI Mimika, dr.Leonard Pardede, Sp. OG(K). (Foto: Sevianto/Seputarpapua)

TIMIKA | Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Timika, dr. Leonard Pardede, Sp.OG(K) menegaskan malaria tidak dapat dianggap sepeleh sebagai salah satu penyakit infeksi mematikan di dunia.

dr. Leo mengatakan, tingkat keparahan penyakit malaria tergantung pada daya tahan tubuh penderita. Infeksi parasit malaria dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

“Ya (malaria) tentu bisa mengakibatkan kematian. Ada yang daya tahan tubuh lemah, dia lebih berisiko jika tidak ditangani,” katanya kepada Seputarpapua di Timika, Rabu (24/8/2022).

Selain kondisi tubuh, jumlah parasit yang bersarang dalam tubuh penderita juga menentukan kondisinya bagaimana dia bertahan terhadap penyakit tersebut.

Malaria disebabkan parasit bernama plasmodium yang dibawa nyamuk Anopheles betina. Parasit plasmodium terbagi empat jenis, yaitu plasmodium vivax, plasmodium ovale, malarie plasmodium dan plasmodium falciparum.

Plasmodium falciparum adalah jenis parasit yang paling banyak ditemukan dan menjurus pada malaria berat hingga menyebabkan kematian. World Malaria Report melansir rata-rata 400 ribu orang di dunia meninggal karena malaria pada 2019.

“Jadi tergantung lagi jumlah parasitnya. Misalkan parasitnya memang sudah terlalu banyak, ini lebih berbahaya lagi,” kata dr. Leo.

Dijelaskan dr. Leo, seseorang yang terinfeksi dan belum tertangani, dapat menunjukkan gejala mual hingga muntah-muntah. Juga dapat mengalami kerusakan organ diindikasikan ketika penderita mengeluarkan urine berwarna cokelat.

Pada umumnya di daerah endemik penderita terinfeksi malaria melalui gigitan nyamuk. Parasit plasmodium akan berkembang biak di dalam organ hati (liver) dan menginfeksi sel darah merah. Itu sebabnya malaria dapat menular lewat gigitan nyamuk, alat suntik, transfusi darah, dan sebagainya.

“Kasus kematian ini sudah terjadi cukup banyak, termasuk di Timika. kalau dia tidak ditangani secara cepat, jika daya tahan tubuh pasien lemah, lalu tidak ditangani maka dia bisa meninggal dunia,” kata Leo.

Ia mengatakan, penyakit malaria bisa fatal hanya dalam hitungan hari saja jika tidak tertangani. Ironisnya, kondisi ini terkadang diperparah tindakan penderita yang hanya meredakan gejala dengan mengonsumsi obat penurun panas.

“Misalnya satu minggu lalu dia malaria tapi hanya minum paracetamol sudah merasa baikan. Karena dia panas naik turun. Kemudian dia tidak konsumsi obat misalkan, terus sampai mata kuning ini bisa bahaya,” kata dr. Leo.

Beberapa bulan terakhir penyakit malaria meningkat di Mimika. Rumah sakit swasta yang dikelola dr. Leo juga merasakan kenaikan 10-20 persen kunjungan pasien malaria belakangan ini.

“Tapi memang penderita malaria lebih banyak ditangani di rumah sakit milik pemerintah. Walau pun begitu, kami swasta merasakan memang ada peningkatan kasus,” katanya.

Karena itu, dr. Leo mengingatkan bahwa malaria hanya bisa dihentikan dengan pencegahan yang maksimal, bukan hanya berfokus pada terapi (pengobatan).

“Pencegahannya yang paling penting. Jangan sampai digigit nyamuk malaria. Mencegah jauh lebih baik dari pada mengobati,” tegasnya.

Tanggapi Berita ini
reporter : Sevianto Pakiding

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.