Estuary Structure Project, Solusi PTFI Tangani Limbah Tailing dan Pendangkalan

Estuary Structure Project, Solusi PTFI Tangani Limbah Tailing dan Pendangkalan
Para peserta kegiatan serta jajaran manajemen PT Freeport Indonesia saat melakukan penanaman bambu secara simbolis di Muara Ajkwa sebagai tanda dimulainya Program Estuary Structure Project, Rabu (22/11/2023). (Foto: Fachruddin Aji/seputarpapua)

TIMIKA | Limbah tailing dari sisa produksi pertambangan terus menjadi fokus yang harus ditangani PT Freeport Indonesia (PTFI) sebab volumenya yang besar.

Vice President Environmental Division PTFI Gesang Setiyadi juga mengakui dampak terbesar dari operasi pertambangan PTFI adalah tailing. Meski begitu kata dia, PTFI telah mendapatkan izin Pemerintah Pusat untuk mengendapkan tailing di areatertentu atau disebut dengan Modified Ajkwa Deposition Area (Mod ADA).

“Tetapi tidak semua (tailing) bisa ditampung di situ (Mod Ada) berdasarkan dokumen AMDAL,”ujarnya dalam kegiatan pembukaan Estuary Structure Project yang digelar di Muara Ajkwa, Mimika, Papua Tengah, Rabu (22/11/2023).

Kata Gesang, hingga akhir masa tambang tahun 2041, hanya 50 persen yang tertampung di Mod ADA, sisanya ke muara sehingga terjadi pendangkalan,

Agar tidak melebar, PTFI bekerjasama dengan para profesor hingga mendapatkan solusi yang disetujui oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yakni membangun struktur sstuary.

“Proyek estuary dibagi menjadi dua macam. Pertama geotube atau struktur (sebuah karung besar) yang diisi dengan material tailing, dengan kapal keruk kita masukan ke situ, airnya keluar, padatannya tertinggal disitu (dikarung,red), tujuanya untuk mengendapkan tailing, sementara airnya ke laut, dan kalau sudah mengendap nantinya bisa ditanami dengan mangrove,” jelasnya.

Gesang mengklaim pengendapan yang ditanami mangrove berhasil membentuk ekosistem baru.

Proyek estuari kedua adalah menggunakan bambu yang disebut dengan egrowing.

“Jadi menggunakan bambu yang nanti melibatkan masyarakat (lokal sebagai kontraktor) untuk menancapkan bambu, tujuannya sama, kita pasang membentuk huruf E, makanya disebut sebagai Egrowin, lama-kelamaan sedimen akan mengendap di situ, kemudian bisa ditanamani mangrove dikemudian hari,” terangnya.

Panjang struktur geotube setiap tahunnya yang akan dibangun 2,8 Km, kemudian struktur bambu akan dibangun 2,7 Km dan penanaman mangrove seluas 500 hektare.

Selanjutnya, Profesor Denny Nugroho Sugianto yang merupakan bagian dari tim PTFI dalam menanggulangi masalah tailing memaparkan hal yang sama dengan Gesang Setiyadi.

“Egrowin atau estuary sturcture ini kita kembangkan bersama. Ini sudah berhasil dikembangkan di beberapa daerah di Jawa, kebetulan Kementerian Kelautan juga mengadopsi teknologi bambu ini,” jelasnya.

Denny mengatakan, estuary proyek merupakan salah satu upaya pengelolaan lingkungan dengan teknologi sederhana, Karena menurutnya masyarakat hanya perlu mengambil bambu sebagai sumber daya alam lokal.

Denny juga mengklaim inovasi yang dikerjakannya dengan PTFI ini akan menjadi solusi yang berkelanjutan.

“Keberlanjutan itu ada tiga aspek, pertama sosial, bagaimana kita berinteraksi dengan masyarakat, bagaimana masyarakat meningkatkan aspek ekonomi, dan terakhir lingkungan (tumbuhnya ekosistem mangrove baru),” tuturnya.

Pengelolaan lingkungan yang dilakukan dengan baik kata Denny bisa meningkatkan ekonomi, dampak sosial dan lingkungan.

“Jadi kita tidak perlu lagi melihat dampak-dampak yang negatif,” ujarnya.

Sementara itu, Senior Vice President (SVP) Community Development_ PTFI, Nathan Kum menyampaikan terima kasih kepada Departemen Environmental PTFI yang telah melaksanakan kegiatan pemasangan bambu dan inovasi Estuary Structure Project di Muara Ajkwa.

Menurut Nathan, yang dilakukan Environmental Devisi merupakan salah satu bentuk komitmen PTFI dalam pengelolaan lingkungan hidup di wilayah muara Ajkwa juga Mimika.

penulis : Fachruddin Aji
editor : Iba

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *