OPINI – Terpanggil untuk IKT Mimika

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Keluarga Yusuf Rombe Pasarrin
Keluarga Yusuf Rombe Pasarrin

Oleh: Ayub Pongrekun

Keterpanggilan melayani masyarakat banyak, adalah modal utama untuk membangun IKT Mimika.

Sosoknya sederhana, dalam semangat juangnya yang besar, Yusuf Rombe Pasarrin di Timika, nama Pak Yusuf Rombe sudah cukup populer. Beliau dikenal sebagai pengusaha dibidang Kontruksi.

Agustus 1986 pertama kali Yusuf Rombe menginjakkan kaki di Timika. Setelah lulus dari STM Tagari, beliau merantau ke Timika untuk mengadu nasib. Jiwa wirausaha yang dimilikinya membawa Yusuf Rombe sampai ketitik sekarang ini. Dalam buku BANNE TORAYA, 50 Inspirator Generasi Muda Toraja yang diterbitkan DPD KNPI Toraja Utara, diceritakan awal perjalan Pak Yusuf Rombe dimulai dari menjadi cleaning service di Tembagapura, kawasan pertambangan PT. Freeport Indonesia.

Sebagai seorang pengusaha, Yusuf Rombe tergolong orang yang cukup berhasil. Apa yang dicapai merupakan bukti nyata atas kerja keras untuk mendapatkan apa yang dituju.

Saling Berbagi Ditanah Papua

Rezeki yang diterima dari peran sebagai pengusaha dan kontraktor yang  dikategorikan sukses di Tana Papua, beliau tidak lupa akan kepedulian sosialnya terhadap masyarakat Papua. Hampir setiap tahun ia membagi-bagikan pakaian kepada masyarakat pedalaman. Pak Yusuf Rombe pernah bekerja sama dengan PT. Freeport Indonesia menyediakan jasa transportasi bagi masyarakat Timika yang ada di 5 desa (Nawaripi, Koperapoka, Ayuka, Tipuka dan Nayaro dgn titik sentral Gorong-Gorong). Ia menyediakan 10 bus khusus untuk mengangkut masyarakat 5 desa. Selain Yusuf Rombe, sebelumnya ada 3 orang pengusaha transportasi yang bekerja sama dengan PT. Freeport, hanya saja kedua pengusaha itu mundur dengan alasan tidak mendapatkan keuntungan. Pak Yusuf Rombe tetap bertahan semata-mata membantu masyarakat dalam hal transportasi.

Tahun 2006-2012 beliau menampung dikawasan rumahnya sebanyak 18 KK masyarakat Papua yang kurang mampu, yang kebanyakan anak-anak dan janda. Mereka adalah pengungsi korban perang yang biasa terjadi di daerah Kwamki Lama. Program ini kerja sama dengan pemerintah, saat pembayaran mau diselesaikan, Pak Yusuf Rombe tidak menuntut banyak atas dana yang dikeluar, dibanding dengan dana yang diterima. Bagi beliau, membantu masyarakat (terutama orang Papua) merupakan bentuk syukur atas rezeki yang diterima. Yusuf Rombe juga kerap kali membiayai dan membina generasi muda khususnya dalam bidang olahraga Bulu Tangkis.

Yusuf Rombe dan Sangtorayaan

Sebagai orang Toraja, Pak Yusuf Rombe terus memelihara tradisi dari masyarakat Toraja. Pak Yusuf Rombe bagian dalam persekutuan keluarga Bodepa, beliau selalu ikut serta dalam kebersamaan ditanah rantau. Sekitar 6 kali berturut turut perayaan Natal keluarga Bodepa dilaksanakan dirumah beliau sebagai salah satu bentuk bagian dari kebersamaan.

Awal tahun 2007, dalam rapat pembubaran panitia natal IKT 2006 yang kebetulan Pak Yusuf Rombe menjadi ketua panitianya, dibicarakan mengenai kelanjutan usaha IKT dalam membangun sebuah Tongkonan. Maka, saat itu disepakati bahwa Pak Yusuf Rombe dipercayakan untuk menjadi ketua panitia Pengadaan Tanah dan Pembangunan Tongkonan, dan Pak Suleman Monggo sebagai Wakil Ketua.

Tugas berat menanti, selain masalah dana, sepetak tanah pun belum dimiliki oleh masyarakat Toraja. Muncul ide dari Pak Yusuf Rombe, tanah milik haji Kose’ sekitar 12.000 meter persegi yang terletak di wilayah Sempan-Timika yang awalnya akan dijual ke Pak Yusuf Rombe dialihkan untuk tanah Tongkonan IKT, dengan harga jual 400 juta rupiah. Saat itu IKT belum memiliki uang dengan jumlah demikian. Setelah melakukan pembicaraan bersama, maka disepakatilah 3 orang untuk menalangi terlebih dahulu pembelian tanah tersebut. Mereka adalah Pak Alex Padua, Pak Yohanes Bassang dan Pak Yusuf Rombe.

Pak Alex Padua dan Pak Yohanes Bassang masing-masing 100 juta rupiah dan Pak Yusuf Rombe 200 juta rupiah. Saat itu disepakati dalam rapat bersama, bahwa 6 bulan kemudian dana talangan tersebut akan diganti oleh masyarakat Toraja yang ada di Kabupaten Mimika. Seiring waktu,  masyarakat Toraja hanya mampu mengembalikan dana talangan sebesar 100 juta, yang kemudian diserahkan ke istri Pak Alex Padua, karena beberapa bulan kemudian setelah pembelian tanah Tongkonan Pak Alex Padua meninggal dunia. Dengan mengacu pada kesepakatan awal, seharusnya tanah tersebut diberikan kepada Pak Yohanes Bassang dan Pak Yusuf Rombe. Namun, dikemudian waktu Pak Yohanes Bassang menghibahkan dana talangan yang beliau berikan. Mengenai dana talangan Pak Yusuf Rombe, sebaiknya dibahas dalam Musda kali ini. Pak Yusuf Rombe Pasarrin menjadi ketua Pembangunan Tongkonan IKT mulai dari awal dibentuknya sampai denga diresmikannya tidak pernah diganti.

Gumulan Musyawarah Daerah

Dalam momentum Musda III IKT Mimika, ada dua sisi yang mesti menjadi gumulan bersama persekutuan-persekutuan. Sisi Internal dan sisi Eksternal IKT. Gumulan pertama yaitu mengenai Internal IKT. Beberapa hal yang baiknya menjadi perhatian, yaitu : Pertama, kondisi sosial dan ekonomi anggota IKT dimasa pandemi. Kondisi Covid 19 yang datang diawal tahun 2020 memberi dampak secara luas, begitu juga yang dirasakan oleh masyarakat Toraja yang ada di Timika. Mesti ada upaya khusus untuk membantu masyarakat Toraja yang terdampak dalam hal sosial dan ekonomi. Kedua, aturan internal IKT. Kebutuhan AD – ART IKT adalah sebuah kebutuhan, Logo IKT, bendera IKT, sekretariat IKT, penataan sistem keuangan dan pendataan anggota. Ketiga, pembenahan Tongkonan. Baik gedung Tongkonan, maupun lingkungan halaman Tongkonan yang mesti dirapikan. Keempat : Mendorong kebersamaan dalam rambu solo’ dan rambu tuka’ yang lebih dalam antar sesama masyarakat Toraja, terutama dalam hal mam’maran mata. Kelima : Membantu masyarakat Toraja yang dalam upaya mencari lapangan pekerjaan.

Sementara itu, gumulan Eksternal yang juga perlu diperhatikan. Diantaranya : Pertama, mendorong peran masyakat Toraja untuk berpartisipasi membangun Timika. Kedua, dialog lintas organisasi-organisasi kemasyarakatan yang perlu dijaga. Ketiga, membangun komunikasi dengan pemerintahan untuk sinergisitas. Juga mempersiapkan diri jika Mimika terpisah dari Papua, lalu menjadi Provinsi tersendiri. Dimana Timika akan menjadi salah satu sentrum dari kawasan pemerintahan dan bisnis.

Kepemimpinan Baru dalam IKT
 
Jika ditanya figur ideal seperti apa yang paling pas memimpin IKT, tentunya akan banyak hal-hal yang akan disampaikan untuk mencari pemimpin yang ideal bagi IKT. Namun, jika dicari yang sempurna, tentu tidak akan ada. Sebagai masyarakat Toraja, tentunya mengharapkan pemimpin yang betul-betul terpanggil untuk melayani  dan bisa menjadi pengayom bagi masyarakat Sangtorayan yang ada di Timika.

Metode mempimpin tiap-tiap orang berbeda-beda. Karakter pribadi yang dimiliki tiap orang mempengaruhi caranya memimpin. Dalam contoh diaras Nasional, kita melihat karakter pemimpin yang berbeda-beda. Pak Ganjar Pranowo yang suka melawak namun penuh pencapaian hasil, pak Ahok yang biasa berbicara keras dengan karyanya yang sangat bermanfaat, Ibu Risma sebagai perempuan yang menghadapi pertarungan politik kuat, namun berhasil membangun surabaya, Pak Jokowi, sederhana, tidak banyak bicara namun jiwanya sangat kuat membangun Bangsa. Ada juga pemimpin Provinsi yang suka bicara namun hasil jauh dari harapan masyarakat.

Poin pentingnya adalah, gaya kepemimpinan bukan menjadi acuan utama. Hasil/pencapaian terhadap tujuan organisasi adalah hal yang utama. Termasuk dalam kepemimpinan IKT, upaya memcapai Tujuan organisasi adalah yang paling utama. Seperti pepatah tua mengatakan ‘Banyak jalan menuju Roma’, dalam ranah IKT, metode kepemimpinan boleh banyak, namun yang penting adalah tujuan yang tercapai.

IKT memiliki desain organisasi yang sudah cukup bagus dengan ada Wakil Ketua, Wakil Sekretaris, Wakil Bendahara dan didukung oleh bidang-bidang. Ini berarti, pola pendistribusian kerja IKT tidak hanya tertumpu pada Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Pemberdayaan pengurus lain mesti dilakukan untuk mencapai tujuan bersama. Yang dibangun bukan Superman yang dibutuhkan, tapi Superteam. Pemberdayaan pengurus sesuai dengan tugas dan fungsinya akan menciptakan dinamika yang lebih baik dan sekaligus proses kaderisasi. Namun, yang lebih penting dari itu, semua pengurus dapat dimaksimalkan untuk mencapai tujuan organisasi.

Pak Yusuf Rombe digadang-gadang akan maju menjadi salah satu calon Ketua IKT Mimika selanjutnya. Dengan melihat apa yang dikerjakan beliau selama ini dalam kasiturusan sangtorayan di Timika dan segala kekurangan serta kelebihannya, maka beliau sangat layak untuk dipertimbangkan memimpin IKT kedepannya.

Selamat berMusda.

Penulis adalah masyarakat Toraja di Timika

Salah satu referensi sumber tulisan diambil dari buku “BANNE TORAYA, 50 Inspirator Generasi Muda Toraja” yang diterbitkan DPD KNPI Toraja Utara

Ditinjau oleh: Aditra

(Opini adalah pendapat atau gagasan penulis yang dikirim ke Redaksi Seputar Papua. Keseluruhan konten menjadi tanggungjawab penulis)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Berita Terkait
Baca Juga
Dapatkan Notifikasi ?    Ya Nanti