Kisah Amira, Dokter Obgyn dan Kandungan Satu-satunya di Fakfak, Melayani Hingga Pedalaman

dr. Amira, SpOG berfoto bersama pasiennya di pedalaman Fakfak (Foto: Ist)
dr. Amira, SpOG berfoto bersama pasiennya di pedalaman Fakfak (Foto: Ist)

“Untukmu Papua aku rela memberikan hidupku, jiwa raga untuk membuat para wanita tersenyum di Papua” begitu untaian kata dari seorang dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) dan kandungan tentang rasa cintanya kepada Papua ketika diwawancarai Seputarpapua.com.

Dia adalah dr. Amira Abdat, SpOG, seorang dokter Obgyn dan kandungan satu-satunya di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Dokter cantik nan ceria berusia 32 tahun ini mendedikasikan profesinya untuk Papua dan rela meninggalkan keluarga dan hiruk pikuk kota besar di Bogorm Jawa Barat hanya untuk melayani masyarakat khusunya kaum perempuan di Kabupaten Fakfak.

Advertisements

Berawal dari restu kedua orang tuanya yakni Drs.Ali abdat dan Dra. Hammy Jaff Abdat putri sulung dari empat bersaudara ini seorang diri memutuskan untuk bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Fakfak pada tahun 2013 sebagai dokter umum. Ia termotivasi karena di pedalaman Fakfak, pasien akhirnya harus melahirkan di rumah entah ibunya atau bayinya meninggal karena persalinan di rumah. Kemudian kurangnya tenaga kesehatan di Fakfak khususnya spesialis Obgyn dan kandungan.

Akhirnya ia berkesempatan mendapatkan beasiswa ke Universitas Airlangga, Surabaya mengambil spesialis Obygyn dan kandungan lalu kembali lagi ke Fakfak pada tahun 2020 hingga kini melayani para perempuan di Fakfak. 

“Saya punya segi prinsip bahwa seorang ibu yang memberikan kehidupan itu tidak layak mati jadi kita harus menyelamatkan mereka jadi itu yang buat saya termotivasi,” ungkapnya.

Melayani di Pedalaman

Meski sehari-hari bekerja di RSUD Fakfak, namun ia juga bersama dengan tenaga kesehatan lainnya yakni dua dokter umum, satu dokter spesialis anak, dan dokter penyakit dalam serta tenaga kesehatan seperti bidan, perawat dan lainnya secara sukarela melakukan kegiatan blusukan masuk ke kampung-kampung mencari ibu hamil yang sulit akses dan jaraknya jauh untuk sampai ke kota.

Selama tahun 2022 totalnya ada 14 tempat yang selalu didatangi, 10 Puskesmas di distrik dan 4 daerah yang tidak memiliki Pustu. Semua daerah-daerah tersebut hanya bisa ditempuh menggunakan transportasi laut.

“Kalau untuk setiap kampung itu biasanya memang kita sudah mengumpulkan kader-kader atau kepala kampung yang biasanya sudah kita berikan informasi di sana, jadi nanti mereka sudah siapkan tempat untuk melakukan pemeriksaan dan pasien sudah diumumkan,” katanya.

Advertisements

Untuk ibu hamil di pedalaman, karena memiliki banyak anak biasanya mereka belum tentu datang ke tempat yang sudah ditentukan, sehingga dr. Amira langsung datang ke rumah masing-masing memberikan edukasi dan menjemput pasien untuk dibawa ke lokasi yang sudah ditentukan lalu dilakukan USG.

“Langsung saya jemput, bawa dengan perahu ke tempat yang kita sudah siapkan, saya bawa USG kan harus ada gensetnya dan biasanya tempatnya tidak terlalu jauh paling setengah jam saja,” ujarnya.

Advertisements

Semua dilakukan secara kontinyu, apabila ada pasien yang bisa ditangani langsung maka akan dilakukan USG dan diberikan obat-obatan serta di kontrol setiap dua bulan sekali. Jika keadaan mengharuskan pasien dibawa ke rumah sakit, maka tim kesehatan langsung membawa ke rumah sakit menggunakan perahu.

Diakui kesadaran ibu hamil di pedalaman untuk memeriksakan diri ke pusat kesehatan sangat minim. Namun ia tidak menyerah. Sebab menurutnya masing-masing ibu punya alasan sendiri.

Seperti yang terjadi, ibu-ibu di pedalaman memiliki banyak anak, dimana menurut dr.Amira prinsip banyak anak banyak rejeki memang betul namun kenyataan tidak diakomodir dengan baik, hamil tanpa perencanaan.

Advertisements

Bahkan usia pasien dr.Amira rata-rata dibawah 20 tahun dan paling banyak adalah 15 tahun sehingga belum matang rahimnya sudah hamil dan tidak diatur jaraknya. Melahirkan juga hanya dilakukan  di rumah tanpa kontrol ke Puskesmas.

Ia juga mengungkapkan, ada beberapa pasien yang bisa dijemput oleh Tenaga kesehatan, namun biasanya juga para ibu hamil memiliki ketakutan tersendiri dengan pelayanan kesehatan seperti takut karena harus dibawa ke rumah sakit atau takut karena tidak memiliki biaya yang cukup.

“Tapi maslaah itu kita langsung tangani di tempat,  jadi biasanya saya di dinas kesehatan sudah bawa orang yang khusus untuk mengurus masalah BPJS dari Dinkes sehingga pasien tidak repot bayar,” ungkapnya.

Advertisements

dr. Amira mengungkapkan, sepanjang tahun 2022, ibu hamil di pedalaman yang dilayani berjumlah70 orang, dan sekitar 20 orang melahirkan di rumah. Namun dengan pelayanan yang intens, kini pasien yang melahirkan di rumah hanya sekitar 5-10 persen. 

“Karena kita lihat juga kalau ada faktor faktor penyulit. Kalau anak sudah 7 bahkan ada yang 9, dengan masalah hipertensi dalam kehamilan kita proses untuk urusan BPJS untuk masuk rumah sakit bisa kita pasca persalinan nanti bisa ikat langsung (steril kandungan) Jadi pasiennya tidak repot pil KB nya lagi,” ungkapnya.

Pendekatan Dengan Masyarakat di Pedalaman

dr. Amira dikenal sangat dekat dengan masyarakat  di pedalaman. Ia juga gemar membagikan aktivitasnya di media sosial. Bahkan beberapa ibu memilih menamakan anaknya ‘Amira’ karena dibantu oleh dr. Amira. Seperti seorang anak pedalaman yang Jumat (13/1/2023) merayakan hari ulang tahun pertama dan dikunjungi oleh dr. Amira. Anak tersebut adalah Amira kecil.

Advertisements

dr.Amira selalu merangkul, mamahami dan berkomunikasi dan menjadikan pasiennya sebagai keluarga. Menurutnya, seorang dokter tidak boleh menyalahkan pasien meskipun kenyataan mereka salah karen tidak memperhatikan kesehatannya.

Ia selalu menanyakan dulu, apa kendala pasien tidak mau berobat, apa yang mereka rasakan. Ia menerima untuk menampung aspirasi mereka apa yang dirasakan pasien masalah kesehatan.

“Saya selalu sampaikan, terimakasih ibu sudah mau berjuang selama ini, saya tau itu tidak mudah untuk dilalui,  tapi kita akan bantu ibu bergerak perlahan dari situasi ini, kita bisa bantu ibu memeriksa kesehatan secara rutin, semua bisa kita bantu, jangan khawatir masalah biaya, kita akan bantu masalah pembiayaan,” ujarnya.

Dengan begitu, ia bisa lebih banyak mengedukasi, bahwa di rumah sakit bukan hal yang menakutkan melainkan banyak keuntungan yang bisa didapatkan dibanding di rumah.

 

dr. Amira saat melakukan pelayanan kesehatan ibu hamil di pedalaman (Foto: Ist)


Peduli Terhadap Kesehatan Perempuan

Selain rutin memperhatikan ibu hamil di pedalaman, ia juga memiliki kepedulian terhadap perempuan, baik yang sudah menikah maupun belum menikah dengan gerakan bebas kangker serviks.

Dijelaskan, banyak wanita beresiko tinggi (PSK) maupun ibu rumah tangga yang sudah punya suami memiliki resiko tinggi  kanker mulut rahim sehingga ia memberikan  pemeriksaan gratis langsung di tempat misalnya di Bar juga di Puskesmas.

“Setiap hari Minggu saya datang, bawa alat sendiri bersama tim, untuk pemeriksaan gratis kalau ada gejala langsung kita ambil tindakan di rumah sakit , kalau tidak ada masalah negatif kita setiap tiga tahun,” jelasnya.

Selain itu, tingginya angka pencabulan anak dibawah umur yang terjadi di Fakfak. Pada tahun 2022 terjadi 29 kasus anak dibawa umur yang juga merupakan pasien dr.Amira. Korban rata-rata diibawah 13 tahun yang dilecehkan baik sesama temannya atau orang yang lebih tua.

Akhirnya ia juga intens untuk ke sekolah-sekolah biasanya ke SD, SMP, SMA untuk memberikan edukasi seks pra nikah, menghindari pernikahan dini.

“Karena pernikahan dini adalah awal dari pada stunting yang akan menyebabkan kegagalan tumbuh pada bayi, karena dimasa yang akan datang, ini kan persiapan belum matang secara fisik, mental secara aspek dalam rahim perempuan belum saatnya tapi hamil karena kecelakaan jadi jangka panjang stuntingnya dimana dilihatnya bukan pada saat ibunya hamil, tapi pada waktu remaja bagaimana kehidupan seksnya,” ujarnya.

Kendala Saat Pelayanan

Dokter Amira juga menuturkan ada beberapa kendala teknis yang dialami khususnya saat melakukan pelayanan di daerah pedalaman.

Kendala yang dialami mulai dari masalah saat perjalanan di tengah laut dengan ombak yang tinggi menyebabkan air masuk ke perahu, hujan yang deras akhirnya mengharuskan mereka berteduh di pulau kosong. Bahkan sempat perahu yang berhenti di tengah laut karena kerusakan mesin.

“Untungnya ada perahu lain di belakang bantu tapi kalau sampai perahu tenggelam, Alhamdulillah belum ya. Cuman kalau kondisi yang lumayan menyeramkan ombak hujan deras itu sering. Namanya juga Papua cuacanya juga tidak menentu kadang perginya panas tau taunya tiba-tiba sudah hujan,” jelasnya.

Menurutnya, pekerjaan yang dilakoni adalah melayani, sehingga baginya tidak ada duka semua harus dijadikan sukacita.

“Semua hal yang tidak enak dibikin enak saja dibuat enjoy, jadi sukanya banyak, semua yang enak, nggak enak kita lalui gimanapun caranya pasien bukan sebagai pasien lagi tapi sebagai keluarga kita apapun yang mereka rasakan kita adalah orang pertama yang harus merasakan dulu, jangan sampai pasien merasa tidak nyaman, enak akhirnya dia menjauh,” ujarnya.

Didukung Pemda

Jasa dr.Amira dan tenaga kesehatan lainnya tidak dibayar untuk kegiatan pelayanan di daerah pedalaman, gaji mereka murni dari pelayanan di RSUD Fakfak.

Namun, mereka mendapatkan dukungan melalui gerakan dari Pemerintah Provinsi Papua Barat yang memilih daerah terpencil yang akses kesehatan sulit akhirnya secara pribadi ia berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Fakfak agar pasien bisa intens datang ke pelayanan kesehatan.

“Kebetulan saya dokter SpOG sendiri dinsini dan kita yang kolaborasi untuk bagaimana caranya menghasilkan setiap bulan pasien datang, harus maksimal semua ibu harus mau jadi saya pendekatannya adalah saya masuk ke rumah-rumah, kalau saya menunggu tidak akan datang,” ujarnya.

Inisiatifnya tersebut juga didukung oleh Pemda mulai dari Bupati Fakfak hingga Dinas Kesehatan  dengan memberikan support obat dan biaya operasional teknis.

“Misalnya kita pergi jauh jauh naik perahu mungkin secara jasa kita gratis memang kita dokter sukarela tapi untuk bensinnya, warga di sana yang kita bawakan sesuatu di sana juga kita tidak hanya kasih USG tapi kita bawakan merek handuk, pakaian dalam, pakaian yang bisa mereka pakai sehari-hari, odol, sikat gigi itu kita bawa semua kita bagi ke mereka di pedalaman dan dananya dari Pemda,” jelasnya.

 

Keluarga dr.Amira, SpOG


Pesan Untuk Perempuan dan Nakes

Memilih seorang diri, jauh dari keluarga adalah hal yang sulit bagi banyak orang. Apalagi dr.Amira berasal dari kota besar yang akses kesehatannya mudah, dokter spesialis hingga profesor pun banyak, aplagi dokter umum.

Namun bagi dr. Amira, ia harus menjemput bola dan memilih bertahan di Fakfak yang menurutnya dengan profesi yang digeluti bisa membawa kebahagiaan bagi kaum perempuan.

“Bagi saya ini adalah sebuah titik terang, bisa membuat sesuatu yang gelap jadi terang, jadi saya merasa mungkin dari kegelapan itulah saya bisa menciptakan sesuatu yang berarti dalam hidup saya,” ungkapnya.

Untuk itu, ia berpesan kepadw para perempuandi Papua agar terus berjuang dan jangan menyerah.

“Saya tau perjuanganmu tidak mudah, tapi percayalah menyerah bukan pilihan, berjuang terus karena hanya dirimu lah yang bisa mengubah nasibmu sendiri carilah kemanapun aspek yang bisa meningkatkan harkat dan derajatmu sebagai perempuan, baik secara kesehatan maupun ilmu,” ujarnya.

“Mungkin perempuan tidak bisa mengangkat barang-barang yang besar dan berat seperti laki-laki, tapi haknya sebagai kaum yang untuk punya pilihan hidup, jalan hidup, sekolah yang tinggi, mendapatkan pelayanan kesehatan, sama kok dengan laki-laki jadi tidak usah menyerah setiap gelap pasti ada cahaya pada ujungnya, jadi jangan takut gelap karena segelap apapun yakinlah cahaya itu masih ada asal kita tidak boleh menyerah dan terus berusaha,” sambungnya.

Ia juga berpesan kepada tenaga kesehatan ya di kota besar agar bisa mencari tempat yang terpencil baik di Papua, Papua Barat atau daerah lainnya yang masih membutuhkan tenaga kesehatan.

Dokter yang masih single ini, mengatakan para Nakes kalau bisa sentuhlah dahulu mereka yang ada  di pedalaman, karena mereka yang berada di pedalaman sangat menbutuhkan tenaga kesehatan.

“Tidak ada yang susah di sini kalau kita sudah sampai di sini, kita akan terus merasakan sayang dan cinta karena kita tau masyarakat divsini. Kalau mau empati yang tinggi sensitifitas yang tinggi sebagai tenaga kesehatan yah datang ke sini. Ke Papua atau Papua Barat atau daerah-daerah Timur di pedalaman karena di situ dirimu baru akan berarti kalau dirimu itu berguna, tak harus sempurna,” pungkasnya.

penulis : Kristin Rejang

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *