seputarpapua.com

Cerita ‘Kanjeng Mami’ Jualan Cakbor Hingga Bangkit dari Keterpurukan Ekonomi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
PAKAIAN | Kanjeng Mami saat menjual pakaian bekas pakai di lapak dadakannya, Senin (12/4/2021). (Foto: Anya Fatma/SeputarPapua)
PAKAIAN | Kanjeng Mami saat menjual pakaian bekas pakai di lapak dadakannya, Senin (12/4/2021). (Foto: Anya Fatma/SeputarPapua)

“Kau coba itu celana yang biru, kayaknya pas di badan kau,” begitu kata Kanjeng Mami ketika menawarkan dagangannya kepada pembeli dengan logat batak kental

Siang itu terlihat tumpukan-tumpukan pakaian bekas pakai atau lebih dikenal cakbor (cakar bongkar), di teras samping rumah yang disulap menjadi toko berukuran 4×8 meter oleh Kanjeng Mami dari hasil usahanya menjual cakbor.

Kanjeng Mami, begitulah perempuan asal Batak bernama Esra Sinaga di Kota Timika, Papua dikenal oleh pelanggan pelanggannya baik pelanggan online maupun offline.

Satu persatu celana, jaket hingga baju kaos ia tunjukkan kepada pelanggannya di lapak dadakannya, Jalan Cenderawasih, tepat di depan Hotel Emerald, Senin (12/4/2021).

Perempuan berusia hampir 40 tahun itu memulai usahanya sebagai penjual cakbor sejak 28 Juli tahun 2020 lalu.

Tanpa modal, Kanjeng Mami dipercaya oleh salah satu agen pakaian bekas di Kota Surabaya untuk menjual pakaian-pakaian itu.

“Modal kepercayaan, saya ambil barang orang, pas habis baru bayar,” ungkapnya.

Kini, tidak tanggung-tanggung, pendapatannya setiap bulan mencapai Rp30 juta.

Berita Terkait
Baca Juga