Kepala LLDIKTI: Meski Tak Punya Emas, Bupati Biak Numfor Anggarkan Rp1 Miliar untuk PT

SAMBUTAN | Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIV Papua – Papua Barat, Dr. Suriel Mofu saat beri sambutan di Sidang Terbuka Senat Untim, Kamis (17/12).
SAMBUTAN | Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIV Papua – Papua Barat, Dr. Suriel Mofu saat beri sambutan di Sidang Terbuka Senat Untim, Kamis (17/12).

TIMIKA | Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XIV Papua – Papua Barat, Dr. Suriel Mofu menyinggung Pemerintah Kabupaten Mimika yang dinilainya seperti ‘tutup mata’ terhadap Perguruan Tinggi (PT) yang ada di daerah itu.

Mofu membandingkan perilaku kabupaten yang punya APBD tertinggi di Papua ini dengan Kabupaten Biak Numfor.

“Bupati Biak Numfor itu menganggarkan 1 milyar (per) satu Perguruan Tinggi Swasta. Walaupun Biak Numfor itu kota karang panas, tidak ada emas di sana,” sindir Mofu dalam sambutannya di Sidang Terbuka Senat Universitas Timika, Kamis (18/12).

Menurut Mofu, penganggaran yang diberikan kepada Bupati Biak Numfor merupakan yang terbesar di Tanah Papua. Ia berharap, bupati lain di Tanah Papua, termasuk Mimika dapat meniru Bupati Biak Numfor karena kepeduliannya terhadap pendidikan tinggi di wilayahnya.

“Mudah-mudahan di Timika juga saya dengar ada ‘bunyi-bunyi’ itu. Apalagi ada Freeport, saya harap bisa kasih kalah Biak Numfor,” singgungnya.

Akademisi jebolan Oxford ini menyebutkan, agar ada bukti bahwa Tanah Mimika adalah tanah kaya yang melimpah dengan sumber daya alam, maka pemkab harus memberi perhatian terhadap Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di wilayahnya. Sehingga kelimpahan yang dimiliki Mimika dirasakan oleh penyelenggara pendidikan tinggi.

IKLAN-TENGAH-berita

“Apalagi Universitas Timika, jangan cuma pakai nama besar Timika, tapi kampus di dalam kosong,” sebutnya.

Meski prihatin, Mofu apresiasi kebijakan PTS di Timika dalam memaklumi keuangan para mahasiswa. Dikatakannya, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tidak memaklumi mahasiswa yang telat membayar biaya kuliah. Namun di swasta, banyak mahasiswa yang diijinkan ‘bon’ oleh kampus.

“Saya tidak tahu, kamu di Timika mengerti ‘bon’ kah tidak. Tapi di kampung-kampung itu mereka ada tulis ‘ demi Tuhan, jangan bon’, begitu. Supaya orang dengar nama Tuhan itu, orang tidak berani bon,” cetusnya.

“Bahkan sampai wisuda pun ada yang masih bon,” tambahnya.

Prev1 of 2

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
INFOGRAFI IGbar
BERITA TERKAITbar
BERITA VIRALbar
BERITA UTAMAbar
BERITA PILIHANbar
BERITA POPULERbar