OPINI | Pasifik Selatan: Kelemahan, Peluang dan Tantangan ke Depan

Hana Theda Alvina

Oleh: Hana Theda Alvina

Pasifik Selatan adalah kawasan yang terdiri dari negara-negara kepulauan dengan wilayah teritori yang kecil. Negara-negara tersebut sangat rentan terhadap intervensi asing akibat kondisi geografis mereka yang sangat strategis untuk melakukan kegiatan dagang dan untuk menaruh pangkalan militer di masa Perang Dunia. Setelah Perang Dunia II berakhir, kawasan ini tetap menjadi perebutan bagi kekuatan-kekuatan besar, baik itu negara China maupun Australia yang turut serta dalam usaha memperebutkan pengaruh di wilayah Pasifik Selatan.

Pasifik Selatan terletak di sebelah timur wilayah Indonesia yang berbatasan antara Papua dan Papua New Guinea (PNG). Dari segi kualitas dan kuantitas keamanan, kesejahteraan dan sumber daya manusia di kawasan ini pada umumnya “rendah” dan masih tergantung pada bantuan luar atau bantuan dari negara lain untuk jangka waktu panjang, seperti Amerika Serikat, Uni Soviet, Perancis, China dan Jepang.

Kelemahan Perekonomian negara-negara di Pasifik Selatan pada umumnya masih terbatas. Penghasilan utama yang diandalkan adalah dari sektor perikanan, perkebunan kelapa, pariwisata dan kerajinan tangan. Salah satu penyumbang devisa terbesar di kawasan ini adalah sektor pariwisata. Jika dilihat dari sektor pertanian negara-negara di Pasifik Selatan, umumnya memiliki potensi yang bagus untuk pengembangan jenis komoditi premium seperti kopra, kopi, kakao, kelapa sawit dan tebu. Namun, negara-negara dalam kawasan ini belum bisa memaksimalkan nilai ekonomis dari potensi sumber daya alam yang dimiliki.

Kendalanya masih terdapat pada minimnya jumlah penduduk, terbatasnya kapasitas sumber daya manusia dan minimnya investasi serta bantuan dari negara lain menjadi banyaknya kendala berkembangnya pembangunan negara. Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara-negara Pasifik Selatan yang menjadi potensi dalam aktivitas perekonomian tetapi pemanfaatan sumber daya alam ini terlihat tidak maksimal. Di sisi lain, sistem ekonomi negara-negara ini telah membuka pasar mereka secara bebas dan juga terbuka untuk menerima bantuan asing serta investasi negara-negara maju.

Selain masalah ekonomi, Kepulauan Pasifik masih memiliki kelemahan dalam hal pembangunan yang berat, termasuk penyediaan lapangan kerja, infrastruktur dan layanan bagi generasi muda, belum secara signifikan mangatasi dampak perubahan iklim yang mengganggu dan mengelola persaingan geostrategis yang semakin meningkat.

Peluang

Pasifik Selatan menjalin hubungan kerja sama dengan berbagai negara yang menjadi peluang kawasan ini dalam mengembangkan negara-negara di sana, beberapa contoh negaranya adalah Tiongkok dan Australia.

Tiongkok sudah memiliki kepentingan komersial di Pasifik Selatan selama ratusan tahun dan mengalami peningkatan secara signifikan sejak tahun 2006. Tiongkok memiliki kepentingan ekonomi dan bisnis yang besar di Pasifik Selatan, termasuk perikanan, perkayuan, pertambangan, energi dan akses pelabuhan. Pada tahun 2001, Tiongkok menandatangani perjanjian kerja sama Belt and Road initiative (BRI) dengan 10 negara Kepulauan Pasifik yang telah menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Selain itu, Tiongkok juga melakukan kerja sama keamanan dengan Kepulauan Solomon, yang dimana Tiongkok mengirimkan aparat keamanan untuk membantu Kepulauan Solomon dalam menjaga ketertiban sosial dan tanggap bencana, termasuk melindungi keselamatan personel Tiongkok dan proyek-proyek besar di Kepulauan Solomon.

Selain Tiongkok, ada juga Australia sebagai donatur bagi Pasifik Selatan yang telah memberikan beberapa bantuan seperti; 1) menjadi donor utama dalam respons Covid-19 dengan memberikan lebih dari 2,5 juta dosis vaksin ke delapan negara sejak awal pandemi, 2) sebagai respons terhadap letusan gunung berapi dahsyat yang terjadi di Tonga pada bulan Januari 2022. 3) Membangun kembali pangkalan angkatan laut PNG-Australia-AS di Pulau Manus, PNG. 4) Mendanai kabel internet bawah laut yang menghubungkan PNG, Kepulauan Solomon dan Australia. 5) Ikut mendanai pembelian perusahaan telekomunikasi regional Digicel oleh Telstra yang memiliki kantor pusat di PNG.

Tantangan

Pasifik Selatan adalah wilayah yang beragam secara geografis dan budaya dengan sumber daya yang melimpah, namun populasinya yang kecil dan tersebar, perekonomian yang sempit dan kerentanan terhadap bencana alam menghadirkan hambatan besar terhadap pembangunan dan juga kehidupan di sana. Pertumbuhan ekonomi untuk menyediakan layanan sosial, infrastruktur dan lapangan kerja bagi generasi muda, mengatasi ancaman perubahan iklim dan membangun kapasitas sumber daya manusia merupakan beberapa prioritas paling mendesak bagi negara-negara di Pasifik Selatan. Pada saat yang sama, meningkatnya persaingan geopolitik menghadirkan risiko keamanan baru dan menambah tantangan tata kelola di kawasan.

Dengan setidaknya separuh penduduknya berusia dibawah 23 tahun, ‘youth bulge’ atau biasa disebut dengan ledakan jumlah penduduk dengan usia produktif di kawasan ini, diperkirakan akan memberikan dampak besar terhadap pembangunan di kawasan ini dalam beberapa tahun mendatang. Tantangan utama terkait youth bulge ini paling besar terjadi di negara-negara Melanesia seperti PNG, Kepulauan Solomon dan Vanuatu yang mencakup meningkatnya pengangguran dan kemiskinan, buruknya hasil pendidikan, meningkatnya tekanan terhadap layanan sosial yang sudah rapuh, meningkatnya masalah kesehatan kronis dan tingginya angka kemiskinan serta risiko kerusuhan sosial.

Kawasan Pasifik juga memiliki tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan tertinggi di dunia, sekitar dua kali lipat rata-rata global. Wilayah ini mempunyai jumlah perempuan yang duduk di parlemen paling rendah dan peluang ekonomi bagi perempuan masih terbatas.

Beberapa tahun terakhir, persaingan geostrategis yang mengalami peningkatan juga menjadi kekuatan yang mengganggu kawasan ini. Keterlibatan Tiongkok di Pasifik menyebabkan masuknya mitra internasional baru dan memberikan peningkatan akses terhadap pendanaan yang sangat dibutuhkan oleh negara-negara di Kepulauan Pasifik.

Di balik itu semua, para pemimpin Pasifik mengakui bahwa persaingan geostrategis ini memperburuk kerentanan di kawasan ini, seperti meningkatnya kejahatan transnasional, termasuk penangkapan ikan ilegal, kebutuhan pembangunan yang mendesak meningkatkan peluang bagi pengaruh asing, korupsi yang telah meningkatkan kompleksitas tantangan keamanan yang sedang dihadapi kawasan pasifik serta meningkatkan persaingan dalam hal mendapatkan sumber daya.

Perubahan iklim menjadi suatu tantangan yang selalu dihadapi negara-negara Pasifik Selatan, khususnya kenaikan permukaan air laut yang menyebabkan negara-negara di kawasan ini kehilangan separuh daratannya. Ancaman kenaikan permukaan air laut sudah menjadi kenyataan bagi penduduk pulau-pulau di Pasifik Selatan dan banyak negara kepulauan kecil mengambil kebijakan untuk memindahkan warga mereka.

Melihat sumber daya alam Pasifik Selatan yang melimpah namun belum dapat dikelola secara maksimal, pemerintah negara-negara Pasifik Selatan bisa melakukan kerja sama dengan beberapa negara yang selama ini mensupport mereka, misalnya Australia dan Tiongkok dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, mengingat separuh penduduk Pasifik Selatan merupakan youth bulge. Kerja sama ini dapat berupa memberikan bantuan tenaga pengajar atau memberikan pelatihan secara rutin (berkala) pada youth bulge, antara lain terkait bagaimana strategi pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan, meningkatkan atau mengembangkan hasil-hasil pertanian yang ada dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan negara-negara lain. Kerja sama ini dapat dituangkan dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU).

Hal lain yang penting adalah membentuk tim khusus untuk mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi di Pasifik Selatan agar dapat segera teratasi. Tim khusus ini terdiri dari pemerintah negara-negara Pasifik Selatan maupun negara-negara yang menjalin kerja sama dengan Pasifik Selatan, LSM, pihak swasta dan juga lembaga-lembaga internasional lainnya. (***)

Referensi
Clare, A. (n.d.). PARLIAMENT of AUSTRALIA. Retrieved from Pasific Island – key issues: https://www-aph-gov-au.translate.goog/About_Parliament/Parliamentary_departments/Parliamentary_Library/pubs/BriefingBook47p/PacificKeyIssues?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc

Ikmal, M. (2019). Tingkat Ancaman (The Level of Threat) Tiongkok Terhadap Australia di Pasifik Selatan. 14.

Sriyani, K. (2020, November 3). The Columnist. Retrieved from Perubahan Iklim dan Kepulauan Pasifik: https://www.thecolumnist.id/artikel/perubahan-iklim-dan-kepulauan-pasifik–1271

Yarangga, A. C. (2018). Kepentingan Indonesia di Pasifik Terkait Masalah Papua. 1.

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional di Universitas Cenderawasih.

(Opini adalah pendapat atau gagasan penulis yang dikirim ke Redaksi Seputar Papua. Keseluruhan konten menjadi tanggungjawab penulis)

disunting Oleh: Saldi Hermanto

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Seputar Papua. Mari bergabung di Grup Telegram “Seputarpapua.com News”, caranya klik link https://t.me/seputarpapua , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *